Ini Strategi Pemerintah Hadapi Dampak Pelemahan Ekonomi Global

Jumat , 15 November 2019 | 22:03
Ini Strategi Pemerintah Hadapi Dampak Pelemahan Ekonomi Global
Sumber Foto : SH/Satryo Yudhantoko
Iskandar Simorangkir (kedua dari kiri) saat menjadi pembicara di dalam diskusi F

JAKARTA - Iklim perekonomian global yang tidak menentu masih akan terus membayangi banyak negara hingga awal tahun depan. Indonesia saja pada Triwulan III 2019 mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen, turun 0,03 persen dari Triwulan II 2019 sebesar 5,05 persen. 

Hal itu, menurut Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir sebagai suatu hal yang perlu diantisipasi. 

Namun ia mengakui kalau pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi dampak buruk perekonomian global. Di mana, salah satu langkah yang akan dilakukan pemerintah ialah meningkatkan konsumsi dalam negeri dan kerja sama perdagangan. 

"Bahwa kita sebenarnya, strategi-strategi yang kita lakukan dalam jangka pendek tadi saya bilang memberdayakan konsumsi domestik. Kemudian ketika gelombang demand-nya turun, kita kan sudah deal (dengan beberapa negara)," ungkapnya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), di Kantor Kemenkominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (15/11/2019). 

Mengenai peningkatan konsumsi masyarakat, dijelaskan Iskandar, pemerintah telah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari 7 persen menjadi 6 persen, yang akan mulai berlaku pada awal Januari 2020. Selain itu, peningkatan plafon KUR yang dari 140 triliun pada 2019 menjadi Rp190 triliun pada 2020, dianggapnya mampu mendongkrak industri di dalam negeri. 

"Untuk masyarakat kecil kita naikan itu platform KUR menjadi 36 persen, supaya naik daya belinya sehingga demand-nya meningkat. Itu yang kita lakukan," kata Iskandar. 

Sementara, terkait kerja sama perdagangan luar negeri, pemerintah telah melakukan tahap akhir negosiasi dengan Amerika Serikat, guna mendapatkan program pembebasan bea masuk ribuan produk Indonesia ke Amerika, atau yang disebut dengan Generalized System of Preference (GSP). 

"Dengan GSP-nya Amerika ini akan segera nanti. Termasuk deal-deal perluasan pasar juga kita lakukan dalam rangka untuk mendorong ekspor kita," terang Iskandar. 

Akan tetapi, Iskandar mengakui bahwa ekspor Indonesia yang belakang melemah ialah karena terdampak perang dagang Amerika Serikat-China. Sehingga cara lain untuk mengoptimalkan pendapatan ialah dengan meramu hasil komoditas dalam negeri menjadi barang jadi. 

Iskandar mengambil contoh dari komoditas kelapa sawit yang bisa diolah oleh industri dalam negeri untuk menjadi biodiesel campuran 30 persen (B30). 

"Kita berdayakan ekonomi domestik kita. Barang-barang kita yang mengalami pelemahan di ekspor kita jual di dalam. Salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya di percepatan B30 itu," beber Iskandar. 

"B30 itu berarti kita menggunakan CPO kita itu costnya 30 persen. 30 persen itu kita campur sebagai biodiesel. Berarti apa? Demand CPO sawit dari pabrik-pabrik itu kan meningkat. Jadi kita melihat satu ekosistem supaya bisa berjalan berkelanjutan. Jadi B30 itu bukan berhenti di B30-nya, kita ingin menarik ekonominya masyarakat, yaitu petani sawit," tambahnya. (Ryo)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load