Indef: Dana Desa Bisa Jadi Bom Waktu

Jumat , 15 November 2019 | 22:15
Indef: Dana Desa Bisa Jadi Bom Waktu
Sumber Foto : Istimewa
Enny Sri Hartati

JAKARTA - Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati merekomendasikan kepada pemerintah untuk merevitalisasi dana desa. Sebab, selain karena adanya isu desa fiktif, pihaknya melihat penggunaan dana desa yang belum berdampak langsung kepada masyarakat dan negara. 

"Makanya saya adalah salah satu yang merekomendasikan adanya revitalisasi dana desa, karena dana desa kemarin lebih banyak untuk bangun jalan, fisik," ungkapnya saat dihubungi sinarharapan.co, di Jakarta, Jumat (15/11/2019).  

Seharusnya, lanjut Enny, transfer dana desa bisa dipergunakan oleh pejabat di suatu daerah untuk mengoptimalkan dan meningkatkan produktifitas, nilai tambah dan daya saing perekonomian perdesaan.

"Kalau transfer dana desa bisa dioptimalkan bisa memiliki multiplier effect (efek pengganda) yang sangat besar, dan mampu menstabilkan ekonomi bahkan bisa mengakselerasi ekonomi," terangnya.

Sebagai contoh, disebutkan Enny, ialah dengan mengalokasikan anggaran untuk kegiatan peningkatan berusaha dan kualitas ekonomi masyarakat. 

"Apakah itu paska panen, apakah itu produk unggulan desa (prukades), atau peningkatan pelatihan tenaga kerja pedesaan untuk mengola potensi desa, atau untuk meningkatkan akses masyarakat pedesaan terhadap ekonomi digital, atau meningkatkan konektivitas pedesaan," Enny menjabarkan. 

Sehingga Enny berharap pemerintah daerah desa tidak lagi menggunakan anggaran yang diberikan hanya untuk pembangunan jalan, irigasi dan hal-hal lainnya yang bersifat statis. Akan tetapi, pemerintah pusat mesti memberikan bantuan anggaran dana alokasi khusus (DAK) fisik khusus jika daerah membutuhkan pembangunan infrastruktur pedesaan. 

"Misalnya kurang pembangunan jembatan yang rusak, yang desa-desa terpencil dan tertinggal kan masih banyak tuh yang butuh bantuan. Nah itu masih memungkinkan diberikan anggaran untuk di situ tapi bukan dari dana desa, tapi dari DAK fisik oleh kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat)," ucapnya. 

Jika revitalisasi itu terealisasikan oleh pemerintahan pusat dan daerah, Enny melihat dampaknya makro. Yakni peningkatan produktivitas atau peningkatan pertumbuhan ekonomi, produktivitas daerah pedesaan dan hasil produksinya bisa berorientasi ekspor.

"Kalau dana desa hanya disawerin gitu doang akan menyebabkan bom waktu, karena stimulus fiskalnya enggak jalan. Kalau stimulus fiskalnya enggak jalan sementara pemerintah terus melakukan anggaran defisit gitu, berarti kan tidak mampu melakukan refinancing untuk pembiayaan belanja defisitnya," imbuh Enny. 

"Sehingga kalau penggunaan dana desa tidak mampu meningkatkan produktivitas maka kemungkinan besar debt trap jadi jebakan utang, utang tapi tidak meningkatkan produktivitas," pungkasnya. (Ryo)

 
KOMENTAR

End of content

No more pages to load