Cadangan Devisa Turun 3,92 Miliar Dolar AS

Rabu , 07 Maret 2018 | 18:35
Cadangan Devisa Turun 3,92 Miliar Dolar AS
Cadangan devisa.

JAKARTA - Jumlah cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2018 sebesar 128,06 miliar dolar AS atau menurun 3,92 miliar dolar AS dari Januari 2018 sebesar 131,98 miliar dolar AS. Itu karena untuk stabilisasi kurs rupiah. Melemahnya cadangan devisa juga disebabkan menurunnya penempatan valuta asing perbankan di Bank Sentral karena kebutuhan pembayaran kewajiban valas masyarakat.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

"Penurunan cadangan devisa pada Februari 2018 tersebut terutama dipengaruhi oleh penggunaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah," katanya.

Meski demikian, posisi cadangan devisa tersebut masih cukup untuk membiayai 8,1 bulan impor atau 7,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Bank Sentral menilai jumlah cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Selain itu, kata Agusman, Indonesia akan menikmati tambahan devisa dari hasil penerbitan sukuk global pemerintah sebesar tiga miliar dolar AS pada Maret 2018."Bank Sentral menjamin kecukupan cadangan devisa guna mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujarnya.

Nilai tukar rupiah terus tertekan sepanjang Februari 2018, terutama karena sentimen pelaku pasar menyambut pengumuman data ekonomi AS yang cenderung membaik dan juga pernyataan Gubernur baru Bank Sentral AS The Federal Reserve Jerome Powell yang menyiratkan nada berani atau "hawkish" mengenai rencana kenaikan suku bunga The Fed lebih dari tiga kali pada tahun ini.

Perdagangan rupiah masih bertahan di level Rp13.700, bahkan nyaris Rp13.800 per dolar AS pada Rabu (7/3/2018) ini. Level tersebut ditegaskan BI sebagai level yang di bawah nilai fundamental rupiah atau "undervalued".

Sumber: antaranews.com

Foto: Dok/Istimewa 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load