Bank Mandiri Perlu Pinjaman Valas US$500 Juta

Kamis , 19 Juli 2018 | 20:45
Bank Mandiri Perlu Pinjaman Valas US$500 Juta
Sumber Foto Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA--Perbankan nasional dikabarkan sedang menghadapi kesulitan likuiditas dalam bentuk valuta asing. PT Bank Mandiri Tbk bahkan dikabarkan sedang mengusahakan pinjaman valas senilai US$500 juta.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, keterbatasan likuiditas valas terjadi setelah gejolak di pasar global yang membuat penarikan dana dalam bentuk valas begitu besar. Pihaknya akan mencari valas melalui penerbitan obligasi global, pinjaman bilateral ataupun REPO dengan underlying aset SBN. "Kami sedang kaji dari sisi tenor dan cost, mana yang lebih efisien dan optimal. Sekitar 1-2 bulan ke depan akan kami putuskan," tambahnya.

Itu sebabnya, menurut Kartika, Bank Mandiri berpikir lebih jauh untuk memberikan pinjaman kepada Inalum guna membeli saham Freeport Indonesia. Angka yang sebesar US$ 3,85 miliar atau Rp 53,9 triliun (Kurs Rp 14.000/US$) dianggap terlalu besar bagi perbankan nasional.

Kartika juga mengakui bahwa likuiditas valas menjadi tantangan bagi Bank Mandiri tahun ini. Selain itu ada pula tantangan dari sisi likuiditas rupiah. Dengan meningkatkan suku bunga acuan BI 7 day repo rate membuat perbankan berlomba-lomba menyalurkan kredit. Sementara penghimpunan dana tidak sebesar pertumbuhan kredit.

Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu menaikkan sukubunga acuan dalam upayanya meredam pelemahan kurs rupiah. Namun tampaknya kebijakan tersebut belum efektif karena hingga hari ini kurs rupiah terus melemah terhadap US$. Petang ini kurs rupiah tercatat Rp 14.500 di pasar spot. BI dikabarkan akan mengaktifkn lagi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai instrumen tambahan untuk meredam gejolak kurs. Kebijakan BI menaikkan sukubunga acuan telah menyebabkan likuiditas perbankan ketat.

 



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR