Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II sudah 3% dari PDB

Jumat , 10 Agustus 2018 | 20:47
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II sudah 3% dari PDB
Sumber Foto Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA--Bank Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 mencapai US$8 miliar atau tiga persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar US$5,7 miliar atau 2,2 persen terhadap PDB. "Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di
tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik Yati Kurniati dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Yati menjelaskan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas tersebut terjadi karena naiknya impor bahan baku dan barang modal sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang meningkat ketika ekspor nonmigas mengalami penurunan. "Impor yang dilakukan tidak semata-mata untuk konsumsi tapi juga untuk kegiatan produksi yaitu bahan baku
dan bahan modal," katanya.

Ia menambahkan peningkatan defisit neraca perdagangan migas ini dipengaruhi oleh naiknnya impor migas seiring dengan kenaikan harga minyak global serta permintaan yang tinggi pada periode Lebaran maupun libur  sekolah. "Defisit neraca perdagangan migas ini dipengaruhi oleh naiknya harga minyak internasional di tengah-tengah siklus peningkatan konsumsi terhadap minyak yang tinggi pada triwulan dua," ujarnya.

Selain itu, sesuai dengan pola musiman, pada triwulan II-2018, terjadi peningkatan pembayaran dividen maupun utang luar negeri korporasi yang ikut memberikan sumbangan terhadap defisit neraca pendapatan primer. "Pada triwulan dua, juga ada waktunya jadwal pembayaran dividen dan utang luar negeri korporasi. Jadi memang ada faktor musiman yang memperbesar defisit neraca transaksi berjalan," kata Yati.

Dengan defisit  neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 mencapai tiga persen terhadap PDB, maka sampai dengan semester I-2018, defisit neraca transaksi berjalan masih berada dalam kisaran 2,6 persen terhadap PDB. Yati menambahkan terdapat surplus transaksi modal dan finansial sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi nasional.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2018 tercatat surplus US$4 miliar atau lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar US$2,4 miliar. Surplus transaksi modal dan finansial ini terutama berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus. Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri.

Meski demikian, surplus transaksi modal dan finansial itu belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan. Dengan kondisi tersebut, pada triwulan II-2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan
mengalami defisit sebesar US$4,3 miliar atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya US$3,9 miliar. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar US$119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.



Sumber Berita:Antaranews.com

Tags :

KOMENTAR