Defisit Transaksi Berjalan 2018 Capai US$31,1 Milyar

Senin , 11 Februari 2019 | 10:08
Defisit Transaksi Berjalan 2018 Capai US$31,1 Milyar
Sumber Foto Istimewa
Ilustrasi

JAKARTA—Bank Indonesia (BI) mencatat  defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit—CAD) pada triwulan IV 2018 mencapai  US$9,1 miliar (3,57% PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$8,6 miliar (3,28% PDB).  Secara keseluruhan sepanjang tahun lalu CAD mencapai US$31,1 milyar.

Dalam rilisnya BI menyatakan bahwa peningkatan defisit neraca transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang nonmigas akibat masih tingginya impor sejalan dengan permintaan domestik yang masih kuat di tengah kinerja ekspor yang terbatas. “Meskipun demikian, kinerja neraca pendapatan primer dan neraca jasa yang lebih baik dapat membantu mengurangi kenaikan defisit,” kata Direktur Eksekutif, Agusman.

Dikatakan bahwa neraca  pendapatan primer terutama ditopang pembayaran bunga surat utang pemerintah yang lebih rendah, dan kenaikan surplus jasa perjalanan, antara lain didukung oleh penyelenggaraan Asian Para Games di Jakarta dan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali.

Namun BI juga mencatat terjadi surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2018, yang mampu  menopang ketahanan sektor eksternal. Setelah pada triwulan sebelumnya mengalami defisit, NPI pada triwulan IV 2018 mencatat surplus sebesar USD5,4 miliar, ditopang peningkatan surplus transaksi modal dan finansial.

Dengan perkembangan tersebut, tulis Agusman, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2018 meningkat menjadi US$120,7 miliar, atau setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Perkembangan NPI pada 2018 secara keseluruhan tahun 2018 menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terkendali.

Mengenai CAD dinyatakan bahwa defisitnya sepanjang tahun 2018 mencapai US$31,1 miliar atau 2,98% dari PDB. Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh impor nonmigas yang tinggi, khususnya bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kuatnya aktivitas ekonomi dalam negeri, di tengah kinerja ekspor nonmigas yang terbatas.

Kenaikan defisit juga didorong oleh peningkatan impor minyak seiring peningkatan rerata harga minyak dunia dan konsumsi BBM domestik. Di sisi lain, di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global yang tinggi, transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang cukup signifikan sebesar USD25,2 miliar, terutama ditopang aliran masuk modal berjangka panjang. Dengan kondisi tersebut, NPI tahun 2018 mengalami defisit sebesar USD7,1 miliar.



Sumber Berita:BI

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load