Survei: Mayoritas Pengguna Ojol Keberatan Bila Tarif Naik

Senin , 11 Februari 2019 | 13:25
Survei: Mayoritas Pengguna Ojol Keberatan Bila Tarif Naik
Sumber Foto Dok/Ist
Salah satu ojek online.

JAKARTA - Mayoritas pengguna ojek online menolak kenaikan tarif bawah, seperti rumor saat ini. Kenaikan juga disebut dapat merugikan driver ojol. Hal itu merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), terhadap 2.001 pengguna ojol di 10 provinsi serta 17 kota dan kabupaten di Indonesia yang telah kedatangan layanan tersebut.

"Sebanyak 22 persen tidak menghendaki ada tambahan biaya sama sekali. Sekitar 48 persen bersedia tapi kurang dari Rp 5.000," ujar Rumayya Batubara dalam konferensi pers di Hong Kong Cafe, Jakarta Pusat, Senin (11/2/2019).

Dalam surveinya, RISED menggunakan tarif batas bawah Rp 2.200 per kilometer. Sementara itu saat ini beredar kabar bahwa pemerintah sedang menggodok usulan tarif dasar bawah dan atas untuk ojol sebesar Rp 3.100-3.500 per kilometer.

Tujuh dari 10 pengguna ojol tidak setuju dengan kenaikan tarif sebesar Rp 900 per kilometer itu. Menurut Ketua Tim Peneliti RISED Rumayya Batubara, mayoritas responden keberatan karena bakal membuat rata-rata pengeluaran para pengguna ojol bertambah menjadi Rp 7.920 per hari, mengingat jarak tempuh rata-rata pengguna ojol mencapai 8,8 kilometer setiap harinya.

Rumayya seperti dilaporkan detik.com juga menyebut bahwa total 74 persen responden menganggap tarif ojol yang berlaku saat ini sudah sesuai, bahkan sangat mahal. 50 persen dari responden yang disurvei berasal dari kelompok ekonomi rendah dengan pendapatan kurang dari Rp 2 juta per bulan.

Menurut dia, potensi kenaikan tarif ojol itu tidak hanya memberatkan pengguna melainkan juga bisa merugikan driver ojol. Itu karena adanya kemungkinan ditinggal pelanggan yang merasa tarif kemahalan.

"Kalau pemerintah mau push tarif ke atas maka ada kemungkinan kehilangan para driver, yang tadinya ingin menambah pendapatan malah kehilangan konsumen. Alih-alih mendapat keuntungan karena kenaikan tarif, malah kehilangan pendapatan," dia menambahkan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load