Sore Ini Rupiah Ditutup di Posisi Rp14.040

Senin , 11 Februari 2019 | 18:05
Sore Ini Rupiah Ditutup di Posisi Rp14.040
Sumber Foto Dok/Ist
Rupiah

JAKARTA - Nilai tukar rupiah tercatat pada posisi Rp14.040 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (11/2/2019) sore. Dengan kata lain, rupiah melemah 0,1 persen dibandingkan penutupan pada Jumat (8/2/2019), yakni Rp13.955 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.995 per dolar AS atau menguat tipis dari penutupan Jumat kemarin, yakni Rp13.992 per dolar AS.

Kondisi ini menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan performa terburuk di Asia. Walaupun, memang, sebagian besar mata uang di Asia mengalami pelemahan pada hari ini.

Tercatat, yuan China yang melemah 0,6 persen terhadap dolar AS, Yen Jepang yang melemah 0,31 persen, peso Filipina yang melemah 0,19 persen. Kemudian, dolar Singapura dan won Korea Selatan masing-masing melemah 0,08 persen. Diikuti ringgit Malaysia yang melemah 0,04 persen.

Meski demikian, beberapa mata uang Asia terlihat menguat terhadap dolar AS, seperti rupee India yang menguat 0,16 persen dan baht Thailand yang juga menguat 0,34 persen. Di sisi lain, dolar Hong Kong tak bergeming dengan dolar AS.

Mata uang negara-negara maju juga melemah melawan dolar AS. Poundsterling Inggris misalnya mencatat pelemahan 0,19 persen terhadap dolar AS, sementara euro juga keok 0,11 persen terhadap dolar AS. Hanya dolar Australia saja yang menguat 0,02 persen terhadap dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan terkaparnya rupiah hari ini disebabkan karena pelaku pasar mempertimbangkan dua hal, yakni kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan kekhawatiran pelaku pasar atas kelanjutan negosiasi dagang antara AS dan China yang ditakutkan tak menemui hasil.

"Jadi intinya, semua pelaku pasar ini tengah menanti-nanti. Apakah karena perlambatan ekonomi atau dari hasil negosiasi perang dagang," Ariston menjelaskan, Senin (11/2/2019) seperti dikutip cnnindonesia.com.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini juga merupakan imbas dari hasil neraca pembayaran Indonesia yang defisit US$7,13 miliar yang merupakan nilai terdalam sejak 2015 silam.

Selain itu, defisit transaksi berjalan sebesar 3,57 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) juta bikin tekanan dari sisi internal."Apalagi pemerintah kan juga telah menurunkan harga BBM, itu bisa menjadi ekspektasi bawah konsumsi minyak akan naik, dan impor migas akan naik, sehingga defisit neraca perdagangan di tahun ini akan terjadi lagi," dia menambahkan.

KOMENTAR