Menengok Realisasi BBM Satu Harga di Daerah 3T

Kamis , 15 Agustus 2019 | 22:27
Menengok Realisasi BBM Satu Harga di Daerah 3T
Sumber Foto SH/Satryo Yudhantoko
Hari Pratoyo (kiri) dan Addieb Arselan (kanan) di Kantor Depot Pertamina Sulawesi Tengah.

JAKARTA - Salah satu program Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) adalah memberi perhatian lebih kepada masyarakat Indonesia di wilayah 3T alias tertinggal, terdepan dan terluar. Program ini diharapkan sebagai langkah awal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah tersebut. Wujud dari program itu di antaranya adalah bahan bakar minyak (BBM) satu harga.

Guna mewujudkan program tersebut, pemerintah melibatkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) dan Pertamina.

Lantas bagaimana program tersebut di lapangan? Bagaimana kedua instansi pemerintah itu mewujudkan pemerataan energi di wilayah 3T?

Anggota Komite BPH Migas Hari Pratoyo mengatakan, program BBM satu harga di antaranya memberikan kesesuaian pasar di daerah 3T. Di daerah ini memerlukan BBM bersubsidi."Perlunya BBM satu harga ini untuk lebih mengaktualkan pendistribusian BBM khususnya untuk BBM yang subsidi," katanya di Desa Labasiano, Buko, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, Kamis (15/8/2019) siang.

Salah satu kebijakan yang dikeluarkan BPH ialah pembentukan Stasiun Pengisian Bensin Umum (SPBU) Kompak. Dengan adanya SPBU Kompak, distribusi BBM bersubsidi bisa sampai ke masyarakat daerah 3T. "Dengan SPBU Kompak ini maka Pertamina melaksanakan komitmennya mendistribusikan bahan bakar minyak," katanya.

Salah satu wilayah yang bisa dijadikan contoh realisasi BBM satu harga lewat SPBU Kompak adalah wilayah di Sulawesi.

Branch Manager PT Pertamina Wilayah Sulutenggo Sulawesi Tengah, Addieb Arselan mengatakan, penyaluran BBM satu harga di wilayah timur Indonesia sudah mengalami peningkatan jumlah yang signifikan.

"Sebagai entitas bisnis kami juga punya visi untuk melebarkan penyaluran kami hingga titik titik terkecil juga, pulau pulau pelosok. Karena bagaiamanapun juga masyarakat adalah pelanggan kami," dia mengungkapkan.

Di sisi lain, Addieb mengakui, menjalankan program BBM satu harga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia mengaku, pihaknya mengalami sejumlah kendala. "Sekarang yang kita sedang pikirkan ada dua hal. Satu teknis penyaluran BBM nya agar lebih cepat dan di lokasi (fasilitas SPBU Kompak)," dia menjelaskan.

Misalnya, di SPBU Kompak Desa Labasiano, Buko, Binggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. SPBU Kompak ini belum memiliki dispenser pump dan tangki penyimpanan BBM. Ia pun juga mengakui, warga sekitar daerah ini mengkhawatirkan proses distribusi lambat dan terjadi lonjakan harga karena faktor penimbunan.

Karena itu, dia bersama jajarannya berusaha untuk memetakan masalah dan mencarikan solusi. Ia berkomitmen atas hal tersebut. "Ke depan insyaallah akan lebih kita persingkat dan semuanya bisa lebih lancar," dia menambahkan.(ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load