DPR Tunggu Kajian Ilmiah Soal Pemindahan Ibu Kota

Minggu , 25 Agustus 2019 | 11:14
DPR Tunggu Kajian Ilmiah Soal Pemindahan Ibu Kota
Sumber Foto Dok/Ist
Bambang Soesatyo

JAKARTA - Ketua DPR Bambang Soesatyo mengaku belum mendapatkan kajian ilmiah dari pemerintah soal pemindahan ibu kota baru. Hingga kini Presiden Joko Widodo juga masih menunggu sejumlah kajian lainnya soal pemindahan ibu kota dari kementerian terkait.

"Sampai hari ini kami belum menerima dan saya dapat komunikasi dan informasi dari istana bahwa masih ada beberapa kajian lagi yang sedang ditunggu oleh presiden, jadi tunggu saja," kata Bambang di Jakarta, Sabtu (24/8/2019).

Pria yang disapa Bamsoet itu mengatakan Jokowi juga belum menyinggung soal kajian pemindahan kota saat keduanya bertemu di Istana Negara beberapa waktu lalu."Tidak ada pembicaraan itu, yang penting bahwa pemerintah masih melakukan kajian dan masih menunggu beberapa masukan dari kajian yang sedang dilakukan saat ini," katanya.

Karena itu, ia meminta semua pihak untuk sabar menunggu kajian soal pemindahan ibu kota. Menurutnya sampai saat ini masih ada sejumlah kajian yang sedang ditunggu oleh pemerintah.

Sebelumnya, Jokowi masih menunggu satu sampai dua kajian terkait pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan.

Mantan Wali Kota Solo itu enggan bicara lebih jauh soal pemindahan ibu kota. Ia hanya menyatakan masih menunggu kajian yang belum diselesaikan jajarannya."Akan kita umumkan pada waktunya, masih menunggu kajian, tinggal satu, dua kajian yang belum disampaikan kepada saya," kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/8/2019) seperti dilaporkan cnnindonesia.com.

Dalam sidang Sidang Bersama DPR-DPD, 16 Agustus, Jokowi sempat meminta izin kepada parlemen untuk memindahkan ibu kota.

Sementara itu Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil mengatakan lokasi ibu kota baru akan berada di Provinsi Kalimantan Timur. Ia kemudian meralat ucapannya dan menyebut belum ada keputusan soal lokasi ibu kota baru.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load