Indef: Pemindahan Ibu Kota Justru Makin Membuat Kesenjangan Ekonomi

Selasa , 03 September 2019 | 19:29
Indef: Pemindahan Ibu Kota Justru Makin Membuat Kesenjangan Ekonomi
Sumber Foto: SH/Satryo Yudhantoko
Tauhid Ahmad saat memaparkan hasil kajian Indef dalam seminar di DPR.

JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melakukan kajian terkait rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur. Hasilnya, tidak ditemukan efek positif terkait pertumbuhan ekonomi nasional secara merata. Melainkan adanya efek negatif berupa kesenjangan ekonomi yang semakin meluas.

Hasil kajian Indef tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad dalam acara seminar dengan tema "Menyoal Pemindahan Ibu Kota Negara" di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (3/9/2019).

Dalam paparannya, Tauhid menilai rencana pemindahan ibu kota tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. "Soal usul pemindahan ibu kota ini bermanfaat secara ekonomi, bermanfaat terhadap pembangunan secara umum atau tidak?," ujarnya.

"Karena kalau kita lihat kondisi saat ini urgensitasnya, bahwa ekonomi kita sedang melambat. Kalau kita lihat dari tahun 2019 triwulan pertama kita hanya tumbuh 5,07 persen dan kemarin turun 5,05 persen," sambungnya.

Bahkan Tauhid memprediksi perang dagang antara AS-China akan terjadi dalam waktu yang tidak sebentar dan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan di angka 5 persen satu hingga dua tahun ke depan.

Karenanya ia mempertanyakan niat dan tujuan pemerintah memindahkan ibu kota ke Pulau Borneo tersebut. "Seberapa urgen atau seberapa manfaat pemindahan ibu kota. Kita berangkat dari satu pemikiran dan tesis yang disampaikan oleh Bappenas. Apakah benar kajian yang disampaikan Bappenas?," tanyanya.

Ia pun memaparkan perbandingan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalimantan dengan Jawa. Kalimantan katanya, memiliki PDRB cukup tinggi 10,61 persen atau 10 juta perbulan. Sementara pulau Jawa rata rata 4,47 persen.

Dari sisi distribusi, pulau Jawa mempunyai nilai yang cukup dominan yakni sebesar 58 persen, sementara Kalimantan 17 persen.

Di sisi lain, Tauhid juga membandingkan persentase kemiskinan Jawa yang cukup tinggi 50,16 persen dibanding Kalimantan 5,9 persen. Begitupun tingkat pengangguran di Jawa yang lebih tinggi 5,8 persen dibanding Kalimantan 4,9 persen.

"Artinya kalau ini kita mau ratakan (ekonomi Indonesia) Kalimantan, termasuk Kaltim, jauh lebih baik dari pulau Jawa. Jadi kalau kita lihat Ini yang membuat secara umum bahwa justru tidak akan memeratakan pertumbuhan ekonomi. Justru akan semakin memudahkan kesenjangan ekonomi yang cukup dalam," ungkapnya.

"Terutama penduduk di Pulau Jawa maupun pulau pulau yang memiliki keterkaitan ekonomi (dengan Jawa). Jadi kalau mau kita lihat, ekonomi di Kalimantan akan semakin besar," tambah Tauhid. (ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load