INDEF: PHK Bukalapak Bukti Indonesia Sudah Terkena Dampak Resesi Global

Rabu , 11 September 2019 | 13:47
INDEF: PHK Bukalapak Bukti Indonesia Sudah Terkena Dampak Resesi Global
Sumber Foto : Istimewa
Bhima Yudhistira Adhinegara

JAKARTA - Adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di perusahaan e-commerce Bukalapak disebut oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara, sebagai satu bukti Indonesia juga terkena dampak resesi ekonomi global. 

Menurut Bhima, PHK Bukalapak ini mematahkan teori bahwa ada shifting besar-besaran dari konsumsi ritel konvensional ke ritel online. 

"Faktanya kondisi ekonomi saat ini sama-sama berat baik bagi pemain konvensional maupun online termasuk startup marketplace," kata Bhima saat dikonfirmasi sinarharapan.co, di Jakarta, Rabu (11/9/2019). 

Ia menyatakan bahwa di tengah kelesuan kegiatan dagang (resesi) di tingkat global mempengaruhi konsumsi rumah tangga yang cendrung tumbuh rendah di kisaran 5 persen.

Hal itu mempengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah dan atas. Hingga akhirnya juga terpengaruh kepada tingkat transaksi jual beli market place online. 

"Kelas menengah dan atas yang tadinya diandalkan untuk mendorong konsumsi akhirnya terpaksa menahan belanja. Konsumen sedang khawatir isu resesi ekonomi global, perang dagang dan rendahnya harga komoditas," tutur Bhima. 

Di sisi yang lain, ekspansi bisnis digital tidak selamanya bisa berjalan mulus menurut peneliti INDEF di bidang ekonomi digital ini. Modal ventura asing yang terus menerus menyuntik e-commerce, katanya, memiliki limitnya juga. 

"Misalnya Jepang masuk resesi, Eropa resesi, China slow down pasti suntikan modal ventura ke indonesia terpengaruh. Ini mungkin yang kurang diperhatikan, hanya melihat dari sisi valuasi tapi profit belum tentu besar," sebut Bhima. 

"Kalau enggak hati-hati kan bisa bikin bubble alias gelembung. Kita belajar dari dotcom crisis tahun 2000 di AS di mana suntikan besar besaran ke startup tidak semua berakhir bahagia," sambungnya. 

Adapun terkait PHK terhadap 250 karyawan Bukalapak, menurut Bhima juga karena persoalan persaingan antar e-commerce yang kurang sehat. 

"Mereka berlomba jor-joran memberikan promo dan diskon, bahkan sampai gratis ongkir. Pasti ada yang tersingkir dari persaingan rebutan diskon itu. Mirip kasus transportasi online yang ujungnya hanya menyisakan dua pemain. Jadi ya bisa saja kan kalah saing," pungkasnya. (ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load