BKPM Naik Kelas Jadi Kementerian Bukan Solusi Tingkatkan Investasi

Rabu , 11 September 2019 | 16:40
BKPM Naik Kelas Jadi Kementerian Bukan Solusi Tingkatkan Investasi
Sumber Foto : Istimewa
Didik J Rachbini

JAKARTA - Ketua Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) Didik J Rachbini angkat bicara soal dinamika ekonomi nasional saat ini. Menurutnya, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diwacanakan naik kelas ke Kementerian bukanlah solusi meningkatkan investasi di Indonesia.

Ia berpandangan bahwa titik lemah dari kebijakan ekonomi pemerintah periode 2014-2019 adalah kebijakan investasi yang terseok di belakang dan kurang menghasilkan dorongan investasi dari luar negeri. 

"Ini yang menyebabkan ekonomi bergerak hanya 5 persen. Dalam keadaan resesi yang diperkirakan nanti, ekonomi akan tumbuh di bawah 5 persen jika kinerja investasi masih seperti biasanya sekarang ini," ungkapnya saat dihubungi sinarharapan.co, di Jakarta, Rabu (11/9/2019). 

Ia menjelaskan bahwa masalah utama dari investasi yang lemah di Indonesia bukan karena casing dari lembaga penanaman modal, yang seolah-olah harus diubah dari badan naik menjadi kementrian. "Bukan itu. Masalahnya adalah pada kebijakan ekonomi, investasi dan industri yang tidak jalan," ungkap pendiri dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tersebut. 

"Karena itu, investasi tidak berkembang maksimal dan tidak memberi dorongan yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi," sambungnya. 

Jika memang nantinya BKPM naik tingkat menjadi Kementerian Investasi, Didik menilai hanya akan memberi efek kecil terhadap perkembangan investasi dan ekonomi secara keseluruhan. Karena jika kebijakannya tidak dijalankan dengan baik, paket-paket investasi yang datang beruntun tidak memberikan efek nyata terhadap ekonomi. 

"Karena kebijakannya tidak dijalankan, apalagi cuma mengubah badan menjadi kementerian. Investasi hanyalah efek atau akibat dari suatu substansi kebijakan ekonomi menyeluruh, termasuk di dalamnnya kebijakan investasi dan industri," terangnya. 

Lebih lanjut, Didik tidak memiliki masukan yang konkret untuk mempertahankan kondisi ekonomi nasional diatas 5 persen. Sebab ditengah kondisi perang dagang AS-China dan Resesi hal ini tidaklah mudah.

"Momentumnya 3-4 tahun lalu, tapi dilewatkan. Dalam kondisi hampir resesi tidak mudah mempertahankan tingkat pertumbuhan 5 persen. Yang penting adalah kebijakan bertahan agar krisis tidak melebar dan jauh mendegradasi ekonomi," dia menambahkan. (ryo)

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load