Biaya Logistik Mahal, Asing Enggan Berinvestasi di Indonesia

Rabu , 09 Oktober 2019 | 15:26
Biaya Logistik Mahal, Asing Enggan Berinvestasi di Indonesia
Sumber Foto: Istimewa
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat memberikan kuliah umum di

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang P.S. Brodjonegoro mengakui salah satu alasan Indonesia menjadi kurang menarik di mata investor asing adalah mahalnya biaya logistik di dalam negeri.

Mantan Menteri Keuangan itu menuturkan biaya logistik di Indonesia bahkan tercatat paling mahal di Asia. Pada 2018, data Kementerian Perindustrian mencatat biaya logistik Indonesia mencapai 24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara biaya logistik di negara-negara tetangga, angkanya jauh murah dibandingkan Indonesia. Sebut saja Malaysia yang hanya sebesar 13 persen dari PDB, Vietnam 20 persen, Thailand 15 persen, dan Singapura 8 persen.

"Kalau Anda pengusaha atau investor ingin mendapatkan return (imbal hasil) di Indonesia jadi Anda harus mempertimbangkan 24 persen ini, karena Anda harus bayar untuk biaya logistik," kata Bambang seperti dikutip dari cnnindonesia.com, Rabu (9/10/2019).

Bambang pun tidak heran jika peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia kini berada di posisi 46 pada 2018. Meski berhasil naik 17 peringkat dari 63 di 2016, namun Indonesia masih kalah dari Malaysia yang bertengger di peringkat 41, Vietnam 39, Thailand 32, dan Singapura 7.

LPI merupakan indeks pembanding sistem logistik secara global yang dibuat oleh Bank Dunia. Tujuannya, untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang logistik serta perdagangan suatu negara.

Untuk menekan biaya logistik, ia menyatakan Indonesia masih membutuhkan pembangunan infrastruktur, pengembangan konektivitas, dan perbaikan jaringan distribusi. Jika upaya tersebut konsisten dilakukan, maka Indonesia bisa memangkas biaya logistik hingga di bawah 20 persen pada 2024.

"Yang paling penting 2045 kalau kita sudah menjadi negara maju biaya logistiknya harus di bawah 10 persen," imbuhnya.

Tak hanya itu, Indonesia juga masih kalah saing dari sisi regulasi perdagangan. Ia menyebut beban biaya bagi eksportir tergolong tinggi lantaran proses perizinan dan regulasi perdagangan yang masih berbelit.

Eksportir di Indonesia membutuhkan waktu kurang lebih hingga 5,4 hari untuk melengkapi dokumen ekspor. Waktu tersebut lebih lama dibandingkan Thailand yang tercatat hanya 2,3 hari, Malaysia 1,6 hari, dan Singapura setengah hari saja.

"Jadi Anda dapat melihat kombinasi antara lebih lama dan lebih mahal. Sesuatu yang tidak menarik pada bisnis di seluruh dunia tapi ini terjadi di Indonesia," paparnya.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load