Perekonomian Melambat, Pengusaha Tahan Diri untuk Ekspansi

Jumat , 11 Oktober 2019 | 09:10
Perekonomian Melambat, Pengusaha Tahan Diri untuk Ekspansi
Sumber Foto: SH/Satryo Yudhantoko
Rosan Roeslani

JAKARTA - Para pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merespon situasi dan kondisi perekonomian global dan dalam negeri yang sedang mengalami perlambatan dengan menahan diri untuk tidak melakukan ekspansi usaha.

Hal tersebut mereka lakukan karena dari segi permintaan pasar pun cenderung stagnan, sehingga strategi untuk melakukan ekspansi usaha dinilai tidak efektif.

"Memang kita harus realistis, karena pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen. Pengusaha untuk ekspansi masih menahan diri," kata Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani, saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Dr. Wahidin, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019).

Rosan menyebutkan bahwa kondisi ekonomi global yang masih gamang bukan satu-satunya alasan pengusaha menahan diri. Akan tetapi permintaan konsumen yang rendah juga menjadi penyebabnya.

"Karena kalau mereka ekspansi demand lagi flat kan. Agak susah juga. Jadi dalam hal ini yang harus dilakukan dunia usaha adalah membuat perusahaan lebih efisien dan baik," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Bank Dunia atau World Bank (WB) kembali mengumumkan proyeksinya terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia serta kawasan Asia Timur dan Pasifik yang melambat.

Dalam laporannya, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang di Asia Timur dan Pasifik melambat dari 6,3 persen pada 2018 menjadi 5,8 persen pada 2019. Perlambatan ini juga akan berlanjut menjadi 5,7 persen pada 2020 dan 5,6 persen pada 2021.

Hal itu, disebutkan WB, disebabkan melemahnya permintaan global dan meningkatnya tensi perang dagang AS dengan China, sehingga nilai ekspor dan pertumbuhan investasi di negara berkembang turun.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan WB akan melambat. Dari yang semula pada 2018 5,2% menjadi 5,0% pada 2019. Namun diperkirakan meningkat kembali pada 2020 menjadi 5,1% dan 5,2% pada 2021.

Sementara, pertumbuhan konsumsi dilaporkan stabil meski lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan di sektor pariwisata, real estate dan ekstraktif juga stabil untuk negara-negara yang lebih kecil di kawasan ini. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load