Tiga Bank Lokal Dicaplok Bank Asing dalam 5 Tahun Terakhir

Jumat , 18 Oktober 2019 | 15:18
Tiga Bank Lokal Dicaplok Bank Asing dalam 5 Tahun Terakhir
Sumber Foto: Istimewa
Ketua Perbanas Kartika Wirjoatmodjo.

JAKARTA - Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) menyoroti kegiatan bank asing yang banyak mengakuisisi perbankan lokal beberapa tahun terakhir. Setidaknya, ada tiga bank asing yang berhasil mencaplok bank di dalam negeri sejak 2017 lalu.

Sebut saja, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (MUFG) yang mengakuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Kemudian, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMFG) yang meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) menjadi 92 persen.

Lalu, Industrial Bank of Korea (IBK) resmi menjadi pengendali PT Bank Agris Tbk (AGRS) dengan jumlah kepemilikan saham 95,79 persen pada awal tahun ini.

Ketua Perbanas Kartika Wirjoatmodjo mengatakan permasalahan utama bank di Indonesia adalah permodalan. Hal ini khususnya bagi bank-bank di luar kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV.

"Memang permodalan perbankan ke depan memang membutuhkan dana besar. Tidak banyak pemodal yang mampu untuk mendanai permodalan bank dalam skala besar. Harus diakui, sehingga perbankan Indonesia harus didukung juga dengan modal dari luar negeri," papar pria yang akrab disapa Tiko ini, Jumat (18/10/2019).

Sementara, perbankan yang masuk dalam kelompok BUKU IV seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai sudah memiliki permodalan yang cukup.

Kendati begitu, Tiko menganggap bank lokal tetap bisa bersaing dengan masuknya bank asing. Ia bilang, perbankan dapat memperluas jaringan ke nasabah kelas menengah dan menengah ke bawah.

"Kalau bank asing kan biasanya main di perkotaan dan mainnya di korporasi besar. Bank-bank lokal harus mampu bermain di level menengah. Kalau mainnya di level besar, lawan funding-nya Jepang kan berat," ucap Tiko seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Menurutnya, perbankan yang kepemilikannya masih mayoritas sahamnya dimiliki oleh pihak lokal juga bisa bekerja sama dengan perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech) untuk memperluas jaringannya mengucurkan kredit.

Selain itu, perbankan juga harus fokus melakukan transformasi ke arah digital.

"Untuk bank-bank yang tidak punya jaringan luas, harus kerja sama dengan fintech atau ekosistem e-commerce," terang dia.

Di samping itu, Perbanas juga menyebut persoalan likuiditas menjadi tantangan dalam lima tahun terakhir. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) sebelumnya memprediksi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hanya 7,4 persen, sedangkan kredit diramalkan naik hingga 11,7 persen.

Ia berharap likuiditas nantinya bisa membaik di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) periode kedua. Dengan kabinet kerja baru, Tiko optimistis likuiditas bisa lebih longgar.

"Optimisme muncul dan masuk capital inflow, harapannya likuiditas melonggar dan pertumbuhan bisa balik pertumbuhan kredit bisa kembali di atas 10 persen," pungkasnya.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load