IHSG Terus Mengalami Koreksi

Kamis , 16 Mei 2019 | 09:45
IHSG Terus Mengalami Koreksi
Sumber Foto: Istimewa
Ilustrasi saham
POPULER
Harga Tiket Pesawat Garuda Sudah Turun

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami koreksi dan semakin meninggalkan level 6.000. Pada pembukaan perdagangan Kamis (16/5/2019), IHSG dibuka melemah 0,18 persen ke level 5.969,86.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan memprediksikan laju IHSG akan semakin lesu pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar merespons negatif data neraca perdagangan periode April 2019 yang mengalami defisit sebesar US$ 2,5 miliar. Realisasi itu berbanding terbalik dibanding neraca perdagangan Maret yang justru mencatat surplus US$ 540,2 juta.

Dennies mengatakan optimisme pelaku pasar surut akibat anjloknya neraca perdagangan bulan lalu. Alhasil, aksi beli pun semakin landai.

"Data neraca perdagangan yang kurang baik menurunkan optimisme investor," papar Dennies dalam risetnya seperti dikutip dari cnnindonesia.com.

Sementara, sentimen global berupa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih mempengaruhi pergerakan IHSG seperti beberapa waktu terakhir. Pelaku pasar diperkirakan terus menarik dananya dari pasar saham Indonesia.

"IHSG diprediksi melemah, support 5.895-5.937 resistance 6.064-6.149," terangnya.

Di sisi lain, Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya meramalkan IHSG bergeser ke teritori positif hari ini. Perhatian pelaku pasar beralih terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan yang akan diumumkan pekan ini.

"BI rate yang disinyalir belum akan terdapat perubahan yang tentunya juga menunjukkan bahwa kondisi perekonomian berada dalam keadaan stabil," ungkap William melalui risetnya.

Bila BI tak mengubah kebijakannya, berarti suku bunga acuan masih akan berada di level 6 persen. Dengan demikian, kata William, peluang IHSG untuk bangkit (rebound) terbuka lebar.

"Hal ini turut memberikan sentimen terhadap pola gerak IHSG hingga beberapa waktu mendatang," jelas dia.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load