Moeldoko Sebut Dalang Kerusuhan 22 Mei Belum Diungkap

Rabu , 12 Juni 2019 | 15:13
Moeldoko Sebut Dalang Kerusuhan 22 Mei Belum Diungkap
Sumber Foto Dok/Ist
Kerusuhan 22 Mei di Jakarta.
POPULER
Sidang Tipikor, Jaksa Cecar Menag Lukman Hakim Vanessa Angel Belum Tentu Bebas 29 Juni Nanti Terungkap di Tipikor, Rommy Sebut Kode "B1" untuk Menag Lukman Polisi: Aksi Massa di MK Tak Berpotensi Rusuh Polisi Taliban Vs Polisi India di KPK, Antasari Azhar: Mana Ada!

JAKARTA - Siapa dalang sesungguhnya kerusuhan 22 Mei lalu? Hingga kini polisi belum menyebut tokoh di balik kejadian tersebut.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengakui, pihak penegak hukum belum mengungkap dalang kerusuhan 21-22 Mei. Alasannya, masih dalam pendalaman kasus."Yang sejauh ini baru diungkap adalah asal-usul senjata api yang disita dalam kerusuhan," katanya di gedung Bina Graha, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (12/6/2019).

"Ini masih proses, hanya memakan waktu. Yang kemarin yang dikenalin lebih dalam adalah bagaimana asal-usul senjata. Selanjutnya nanti akan maju lagi siapa sih sesungguhnya yang berada di balik ini semuanya. Jadi kemarin belum sampai ke dalang kerusuhannya, kemarin lebih mengungkap asal-usul senjata dan mau dipakai apa senjata itu," dia menjelaskan.

Keterangan para tersangka yang juga sudah dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di antaranya H Kurniawan alias Iwan, Tajudin dan Irfansyah. Tersangka H Kurniawan alias Iwan, Tajudin dan Irfansyah dalam proses penyidikan diduga punya keterkaitan dengan Kivlan Zen (KZ) juga satu orang tersangka lainnya yakni Habil Marati (HM).

Moeldoko menyebutkan, masih ada kemungkinan keterlibatan pihak selain Kivlan Zen. "Ya bisa ada, bisa bagaimana nanti hasil investigasi berikutnya," ujarnya.

Moeldoko juga menepis anggapan pengungkapan dalang kerusuhan serta adanya rencana pembunuhan pada pejabat adalah skenario pemerintah."Skenario gimana? Masak pemerintah membuat skenario rusuh, kan nggak logis. Pemerintah itu melindungi masyarakatnya, pemerintah memberikan jaminan atas keselamatan bagi warganya, kok malah membuat sebuah skenario. ini menurut saya tidak benar. Jangan mengada-ada," Moeldoko menegaskan.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load