Sri Mulyani: Bagi 5 Persen ASN, KPK Adalah Ancaman

Senin , 09 Desember 2019 | 14:33
Sri Mulyani: Bagi 5 Persen ASN, KPK Adalah Ancaman
Sumber Foto : Istimewa
Sri Mulyani (tengah) saat bersama pembicara lainnya didalam Peringatan HAKORDIA

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengharapkan penegakan tindak pidana korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat terhadap KPK dari ketakutan menjadi kepercayaan. 

Pasalnya Sri menerangkan, selama ini KPK dianggap sebagai suatu lembaga yang menakutkan dan mengancam di mata sejumlah pihak, tak terkecuali aparatur negara. 

Ia mencontohkan, dari 100 persen ASN di pemerintahan, terdapat sekitar 5 persen oknum yang masih menganggap KPK sebagai ancaman. 

"Kalau KPK tidak dianggap sebagai ancaman, tetapi dianggap sebagai suatu institusi yang ikut menjaga, maka anda mungkin memenangkan 95 peperangan itu. Karena saya percaya, mungkin 95 persen ASN itu baik, bahkan 97,5 persen. yang jelek benar itu yang betul-betul punya niat jahat, itu sedikit," katanya dalam acara peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia (HAKORDIA) 2019 di Jalan Kuningan Persada, Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2019). 

Cara mengubah pola pikir masyarakat terhadap KPK adalah dengan mengubah sistem pencegahan yang tidak menghambat pengambilan kebijakan di institusi pemerintahan. 

"Di dalam suatu masyarakat atau bangsa kalau ada trust itu ekonominya kan maju luar bisa, kalau kita enggak ada trust maka sistem yang dibuat adalah sistem mencurigai, akhirnya tidak ada yang berani ambil keputusan sehingga segala sesuatu tidak ada sama sekali kepastian," ungkap Sri. 

Oleh karena itu, ia berkesimpulan bahwa tugas KPK sangatlah berat. Ke depannya, terkhusus dalam mengubah mindset masyarakat terhadap lembaganya. 

"Jadi menurut saya, tugas paling berat dari KPK adalah memindahkan mindset itu, menciptakan society yang based on trust, kalau dominasi by ketakutan, kekuatan dan apalagi merasa ini sebagai ancaman, maka seluruh sistem akan mengikuti tone seperti itu, dan itu very high cost, sangat tidak pasti, dan dari sisi ekonomi itu menjadi beban yang luar biasa," tutup mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut. (Ryo)

 

 

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load