Kasus Impor Bawang Putih, KPK Geledah Dua Tempat di Jakarta

Senin , 19 Agustus 2019 | 18:15
Kasus Impor Bawang Putih, KPK Geledah Dua Tempat di Jakarta
Sumber Foto Dok/Ist
Febri Diansyah

JAKARTA - KPK kembali melakukan penggeledahan dua lokasi terkait kasus dugaan suap impor bawang putih yang menjerat anggota DPR I Nyoman Dhamantra sebagai tersangka. KPK menyita sejumlah dokumen terkait impor bawang putih dalam penggeledahan tersebut.

"Dari proses penggeledahan ini diamankan sejumlah dokumen-dokumen terkait impor bawang putih dan barang bukti elektronik," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (19/8/2019).

Dua lokasi yang digeledah KPK itu yakni kantor milik tersangka pemberi suap, Chandry Suanda alias Afung, di Kapuk Cengkareng, Jakarta Barat. Sementara satu lokasi lainnya yakni rumah Afung di Jelambar, Jakarta Barat. Febri mengatakan hingga saat ini penggeledahan masih berlangsung.

"Tim masih berada di lokasi, jika ada perkembangan informasi berikutnya akan kami sampaikan kembali," dia menyebutkan seperti dikutip detik.com.

Penggeledahan sejumlah lokasi terkait kasus dugaan impor bawang putih itu sudah dilakukan sejak 9 Agustus 2019. Setidaknya sudah ada 19 lokasi yang berada di Jakarta, Bogor, Bandung Bali, hingga Solo dilakukan penggeledahan sejak 9 Agustus 2019 lalu.

Dalam perkara ini, Dhamantra, yang merupakan anggota Komisi VI DPR Fraksi PDIP ditetapkan tersangka karena diduga meminta fee Rp 3,6 miliar dan commitment fee Rp 1.700-1.800 per kg bawang yang diimpor kepada pengusaha bernama Chundry Suanda (Afung) dan Doddy. Duit itu diduga terkait proses perizinan kuota impor 20 ribu ton bawang putih.

KPK menduga duit yang telah diterima Dhamantra berjumlah Rp 2 miliar. Uang itu diduga ditransfer lewat rekening di money changer. Total ada enam orang yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka yaitu CSU alias Afung (Chandry Suanda) swasta, DDW (Doddy Wahyudi) swasta, ZFK (Zulfikar) swast.

Lainnya, tersangka penerima yakni INY (I Nyoman Dhamantra) Anggota DPR 2014-2019, MBS (Mirawati Basri) orang kepercayaan INY dan ELV (Elviyanto) swasta.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load