Kivlan Zen Didakwa Kasus 4 Senpi Ilegal dan Peluru Tajam

Selasa , 10 September 2019 | 16:07
Kivlan Zen Didakwa Kasus 4 Senpi Ilegal dan Peluru Tajam
Sumber Foto Detik.com
Kivlan Zen

JAKARTA - Purnawirawan TNI, Kivlan Zen didakwa atas kepemilikan senjata api (senpi) ilegal dan peluru tajam. Senpi dan peluru dibeli dari sejumlah orang tanpa dilengkapi surat.

"Terdakwa Kivlan Zen sebagai orang yang melakukan atau turut melakukan perbuatan tindak pidana yaitu tanpa hak menerima,menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak yakni berupa 4 pucuk senjata api dan 117 peluru tajam," kata jaksa membacakan surat dakwaan Kivlan Zen dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Raya, Selasa (10/9/2019).

Perbuatan Kivlan Zen menurut jaksa dilakukan bersama-sama dengan Helmi Kurniawan (Iwan), Tajudin (Udin), Azwarmi, Irfansyah (Irfan), Adnil, Habil Marati dan Asmaizulfi alias Vivi.

Dalam surat dakwaan dipaparkan, Kivlan Zen pada 1 Oktober 2018 bertemu Helmi Kurniawan alias Iwan di Monumen Lubang Buaya. Kivlan Zen meminta wian mencarikan senpi ilegal dan menjanjikan akan mengganti uang pembelian.

Di lokasi, Helmi alias Iwan kemudian memperkenalkan Kivlan dengan Tajudin alias Udin. "Terdakwa mengatakan, 'ya sudah, nanti bila ada tugas khusus saya kabari'," kata jaksa mengutip perkataan Kivlan Zen dalam pertemuan.

Senpi pertama yang diminta Kivlan Zen, dibeli Helmi dari Asmaizulfi alias Vivi. Asmaizulfi menawarkan 1 senpi laras pendek jenis Taurus tanpa peluru yang tidak dilengkapi surat resmi seharga Rp 50 juta. Helmi alias Iwan menyetujuinya.

Serah terima senpi dilakukan pada 13 Oktober 2018 antara Asmaizulfi dengan Helmi alias Iwan di Curug Pekansari Cibinong.

"Asmaizulfi menyerahkan 1 pucuk senjata api jenis Revolver merk Taurus kaliber 38 mm, kemudian saksi Helmi Kurniawan alias Iwan menyerahkan uang sebesar Rp 50 juta kepada saksi Asmaizulfi alias Vivi secara tunai sebagai pembayaran senjata api tersebut," kata jaksa seperti dilaporkan detik.com.

Selanjutnya, Kivlan Zen menurut jaksa pada 9 Februari 2019 bertemu dengan Helmi alias Iwan dan Tajudin alias Udin di RM Padang Sederhana, Kelapa Gading. Dalam pertemuan ini, Kivlan Zen menyerahkan duit SGD 15 ribu dari Habil Marati ke Helmi Kurniawan untuk ditukarkan ke dalam bentuk rupiah.

Helmi alias Iwan menukarkan uang ini di Money Changer Dollar Time Premium Forexindo dengan nilai sebesar Rp 151.500.000 yang kemudian diserahkan kepada Kivlan Zen.

Kivlan Zen mengambil uang Rp 6.500.00 untuk keperluan pribadi. Sedangkan sisanya, Rp 145.000.000 diserahkan kepada Helmi alias Iwan untuk mengganti uang pembelian senpi pertama.

"Dan (terdakwa) memerintahkan agar saksi Helmi Kurniawan alias Iwan segera mencari senjata api laras panjang kaliber besar serta untuk uang operasional saksi Helmi Kurniawan," ujar jaksa.

Uang yang diserahkan Kivlan Zen itu digunakan Helmi alias Iwan untuk diserahkan ke Tajudin alias Udin sebesar Rp 25 juta. Duit ini menurut jaksa adalah biaya operasional survei pemantauan pejabat negara.

Jaksa memaparkan, pada 20 Februari 2019, Helmi Kurniawan alias Iwan menghubungi Adnil untuk memesan 2 pucuk senpi laras pendek dan 2 pucuk senpi laras panjang. Permintaan ini disanggupi Adnil.

Adnil disebut jaksa menerangkan harga senpi yang ditawarkan ke Helmi alias Iwan yakni:

- 1 pucuk senpi laras pendek jenis Mayer warna hitam kaliber 22 mm seharga Rp 5.500.000
- 1 pucuk senpi laras pendek jenis Revolver kaliber 22 mm beserta 4 butir peluru seharga Rp 6.000.000
- 1 pucuk senjata api laras panjang rakitan kaliber 22 mm seharga Rp 15.000.000.

Pada 3 Maret 2019, Adnil menemi Helmi alias Iwan di rumahnya di Cibinong dan mengambil uang tanda jadi Rp 10 juta untuk pembelian 2 senpi laras pendek jenis Mayer dan jenis Revolver kaliber 22 mm.

Selanjutnya pada 5 Maret, Adnil menemui Helmi alias Iwan di Cibinong dan menyerahkan 3 pucuk senpi. Helmi kemudian menyerahkan uang tunai Rp 1,5 juta. Helmi juga melaporkan ke Kivlan Zen sudah mendapatkan 2 pucuk senpi laras pendek dan 1 (satu) pucuk senpi laras panjang.

Kivlan Zen pada 8 Maret 2019 memberikan uang Rp 50 juta kepada Helmi alias Iwan untuk pembelian senpi dan memberikan Rp 10 juta ke Tajudin alias Udin sebagai biaya operasional.

Jaksa memaparkan pada 10 Maret 2019, Helmi alias Iwan, Tajudin dan Azwarni bertemu Habil Marati. Dalam pertemuan, Habil Marati menjanjikan membantu uang operasional Rp 50.000.000 kepada Helmi alias Iwan. Namun Habil Marati baru membawa Rp 10 juta dan langsung diberikan ke Helmi alias Iwan.

Selanjutnya pada tanggal 15 Maret 2019 di Saigon Cafe Pondok lndah Mall, Habil Marati kembali menemui saksi Helmi alias Iwan, Tajudin alias Udin dan Rosida.

Jaksa menyebut, dalam pertemuan Helmi alias Iwan menjelaskan sudah menerima uang dari Kivlan Zen Rp 145.000.000 yang berasal dari Habil Marati.

"Selanjutnya saksi Habil Marati memberi saksi Helmi Kurniawan alias Iwan uang sebesar Rp 50.000.000 dan mengatakan uang tersebut dibutuhkan saksi Helmi Kurniawan untuk kepentingan bangsa dan negara dan berpesan agar saksi Helmi
Kurniawan alias Iwan agar tetap semangat," kata jaksa.

Helmi Kurniawan alias Iwan kemudian memberikan uang Rp 20 juta ke Tajudin alias Udin. Sedangkan sisanya sebesar Rp 30.000.000 dipergunakan oleh Helmi alias Iwan sebagai uang operasional.

"Bahwa perbuatan terdakwa bersama saksi Habil Marati, saksi Helmi Kurniawan alias Iwan, saksi Tajudin alias Udin, saksi Azwarmi alias Armi, saksi Irfansyah alis Irfan, saksi Adnil dan saksi Asmaizulfi alias Vivi yang telah menguasai senjata api tersebut dia tas, tanpa dilengkapi dengan surat-surat resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang," kata jaksa.

Kivlan Zen didakwa dengan Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 jo pasal 56 ayat (1) KUHP.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load