ICW: Gadai SK Anggota DPRD Berpotensi Korupsi

Rabu , 11 September 2019 | 09:27
ICW: Gadai SK Anggota DPRD Berpotensi Korupsi
Sumber Foto Dok/Ist
Donal Fariz

JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai alasan anggota DPRD menggadaikan Surat Keputusan (SK) agar tidak melakukan korupsi tak masuk akal. ICW menyebut malah akan berpotensi terjadi korupsi modus baru.

"Nggak ada jaminan (tidak akan korupsi) justru bisa memicu korupsi modus baru dengan pembayaran cicilan dilakukan oleh pihak ketiga yang berkepentingan," kata peneliti ICW Donal Fariz ketika dihubungi, Rabu (11/9/2019).

Ia mengatakan belum ada jamin bila anggota DPRD itu yang menggadaikan SK-nya itu akan membayar cicilannya sendiri. Ia khawatir cicilan di penggadain itu dimanfaatkan para anggota DPRD itu untuk bermain proyek dengan pihak ketiga.

"Apakah itu ketika menggadaikan SK memilih dari pada korupsi, tidak ada jaminan juga. Karena beberapa yang terjadi sangat mungkin juga pihak ketiga yang bayar cicilan dari yang dia pinjam ke bank. Terlihat tidak korupsi tapi ada pihak ketiga yang membayarkan ini metode yang halus. karena belum tentu dia yang bayar cicilan per bulan bisa jadi pihak ketiga yang berhubungan dengan proyek-proyek pemerintah," ujarnya.

Sebab, menurut Donal dengan modus itu akan lebih sulit untuk diketahui dari pada menerima uang suap secara langsung. Selain itu, Donal menilai cara pembayaranya uang suap dengan modus membayar cicilan SK yang digadaikan dinilai lebih mudah.

"Aku justru curiga apa iya dia yang bayar perbulan kalau nyicil, misalnya nanti anggota dewan yang nyicil kemudian ada kontraktor yang ingin dapat proyek nya, ya sudahlah dari pada menyuap langsung ke tangkap, mending yang nyicil aja dari pada langsung ke tangkap KPK, kalau Rp 100 juta ke tangkap kpk kelihatan, kalau nyicil kan tinggal datang ke ATM transfer per bulan nggak di kasih secara langsung," Donal menambahkan.

Detik.com sebelumnya melaporkan, muncul fenomena dari para anggota dewan, menggadaikan Surat Keputusan (SK) untuk mendapat dana dari bank. Kejadian ini tak hanya muncul di satu daerah saja, melainkan di DPRD yang berlainan daerah.

Menurut Ketua sementara DPRD Ciamis Nanang Permana, anggota legislatif yang menggadaikan SK ke perbankan untuk pinjaman adalah hal yang wajar dan tepat. Rata-rata mereka membutuhkan uang untuk membayar utang pascakampanye atau untuk merealisasikan janji kampanye yang belum terpenuhi kepada pemilihnya.

"Daripada mencuri uang negara, lebih baik ngutang yang dibayar pakai gaji. Kalau ngutang di perbankan ada asuransinya. Biasanya kalau pinjaman itu kredit untuk 48 bulan lunas," Nanang menambahkan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load