Hadiri Dewan MEA, Airlangga Bicara Soal Upaya Persempit Kesenjangan Ekonomi ASEAN

Kamis , 31 Oktober 2019 | 17:29
Hadiri Dewan MEA, Airlangga Bicara Soal Upaya Persempit Kesenjangan Ekonomi ASEAN
Sumber Foto : Istimewa
Airlangga Hartarto di Pertemuan Dewan MEA di Bangkok, Thailand

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menghadiri pertemuan Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) Council yang digelar di Bangkok, Thailand, Kamis (31/10/2019). 

Pertemuan ini masih satu rangkaian dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-35 yang akan berlangsung pada 2-4 November 2019 mendatang. 

Airlangga yang datang bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyambut baik pemberlakuan MEA pada 2015 yang menjadi langkah besar bagi integrasi ekonomi ASEAN. Mantan Menteri Perindustrian itu menuturkan, MEA menawarkan peluang yang besar dengan potensi pasar mencapai US$ 2,6 miliar dan 622 juta penduduk.

Karenanya, forum itu memiliki dampak yang besar bagi perkembangan ekonomi negara-negara di ASEAN. "Nilai ekspor Indonesia ke ASEAN dalam kurun waktu 2015-2018 mengalami peningkatan sebesar 25 persen dari US$ 33 juta menjadi US$ 42 juta pada 2018," ujar Airlangga dalam siaran pers yang diterima pada Kamis (31/10/2019).

"Sementara itu, sebesar 39 persen aliran investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia pada tahun 2018 berasal dari ASEAN. Pada periode 2015 sampai 2018, nilai FDI dari ASEAN yang masuk dari ASEAN ke Indonesia naik 24 persen dari US$ 9,1 miliar menjadi US$ 11,3 miliar pada tahun 2018," jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga menyampaikan harapannya terkait kajian tentang development gap antar ASEAN Member States (AMS). Kajian yang dilakukan guna menyusun prioritas pada tahun-tahun selanjutnya itu, diakui Airlangga akan ikut didorong oleh pemerintahan Indonesia saat ini. 

Sebab, katanya, kajian tersebut diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antar Negara anggota ASEAN. "Indonesia mendorong ASEAN untuk memperhatikan perbedaan tingkat pembangunan diantara AMS dan memprioritaskan inisiatif-inisiatif berdasarkan tingkat practicality serta nilai tambahnya,” papar Airlangga.

Adapun empat hal yang akan dibahas dalam pertemuan MEA kali ini ialah tingkat implementasi prioritas tahunan MEA, pelaksanaan Mid Term Review (MTR) Cetak Biru MEA, kerangka kerja badan-badan sektoral di bawah Dewan MEA, dan Revolusi Industri 4.0.

Menurut Airlangga, khusus pemberlakuan AEC Blueprint periode 2025 yang akan dilakukan, dipandangnya sangat penting untuk melihat output, outcome maupun dampak nyata dari integrasi ekonomi menuju ASEAN Vision 2025. 

“MTR diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi solusi untuk menyelesaikan isu carry-over dari unimplemented priorities ke tahun implementasi selanjutnya,” katanya. 

Selain itu, lanjut Airlangga, Pemerintah juga berharap agar implementasi atas instruksi AEC Council kepada seluruh badan sektoral yang berada di bawah koordinasinya dapat membuat proses kerja di ASEAN menjadi lebih efisien dan efektif.

Sebab sebagaimana diketahui, AEC Council di negara anggota bertanggung jawab untuk memantau perkembangan implementasi setiap prioritas dan melaporkannya pada pertemuan AEC Council Meeting di ASEAN Summit, termasuk dalam ASEAN Summit ke-35 ini. 

“Termasuk untuk mengatasi tumpang tindih tugas dan fungsi diantara badan-badan sektoral,” tutur Airlangga.

Indonesia juga mengusulkan agar isu Fourth Industrial Revolution (4IR) yang sangat luas dan bersifat lintas sektor dapat ditangani oleh lembaga sektoral yang menangani bidang industri dibawah AEC Council. (Ryo)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load