Sofyan Basir Disebut Tawarkan Proyek PLTU Riau untuk Bos Blackgold

Kamis , 11 Oktober 2018 | 15:35
Sofyan Basir Disebut Tawarkan Proyek PLTU Riau untuk Bos Blackgold
Sumber Foto merdeka.com
Sofyan Basir

JAKARTA - Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Fraksi Golkar, Eni Maulani Saragih, Kamis (11/10/2018) siang ini menjadi saksi untuk terdakwa pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited, Johannes Budisutrisno Kotjo dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1.

Dalam persidangan itu, Eni mengaku pernah memfasilitasi pertemuan antara mantan Ketua DPR Setya Novanto dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir untuk membahas proyek yang ingin dikerjakan Johannes Kotjo. Pertemuan itu, dilakukan di rumah Setya Novanto yang dihadiri oleh dia, Sofyan Basir, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Iwan Santoso. Akan tetapi ia tidak ingat kapan pertemuan itu terjadi.

Eni mengakui bahwa pertemuan itu membahas soal proyek-proyek PLN. Saat itu, Setnov menyampaikan keinginan Johannes Kojto kepada Sofyan untuk mengerjakan proyek PLN di Jawa. Namun, saat itu Sofyan menyatakan bahwa proyek PLN di Jawa sudah penuh. Sehingga Sofyan menyarankan agar Johannes Kotjo menggarap proyek PLN yang berada di luar Jawa. "Yang saya ingat (Pak Sofyan bilang) yang di Jawa sudah penuh tapi kalau di luar Jawa dipastikan bisa. Yang di luar Jawa itu yang bisa dipastikan oleh Pak Sofyan Basir," kata Eni di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Dalam dakwaan Kotjo, saat itu Setya Novanto meminta proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Jawa 3 yang berada di Gresik, Jawa Timur kepada Sofyan Basir agar diserahkan kepada Johannes Kotjo. Namun, Sofyan Basir menjawab jika PLTGU Jawa III sudah ada kandidat, sedangkan proyek PLTU Riau-1 belum ada kandidatnya.

Setelah pertemuan dengan Setya Novanto, Eni selanjutnya memfasilitasi pertemuan antara Sofyan Basir dengan Johannes Kotjo. Dalam beberapa pertemuan yang membahas proyek di PLN itu, juga dihadiri oleh eks Direktur Perencanaan Korporat PLN Nicke Widyawati (kini Dirut Pertamina) dan Iwan. Berdasarkan dakwaan, pertemuan itu terjadi di Kantor Pusat PLN pada awal 2017."Beberapa kali pertemuan di situ. Pak Sofyan Basir, pernah juga dengan Bu Nicke yang sekarang di Pertamina, saya dan Pak Kotjo," kata Eni.

Dalam beberapa pertemuan itu, Johannes Kotjo menyampaikan keinginannya secara langsung kepada Sofyan untuk mengerjakan proyek di Pulau Jawa. Namun Sofyan kembali menyampaikan bahwa di Jawa sudah penuh. "Disampaikan keinginan Pak Kojto disampaikan ke Pak Sofyan. Sama saja jawabnya, yang di Jawa tidak bisa," tuturnya lagi seperti dikutip kumparan.com.

Seiring dengan berjalannya waktu, Eni mengatakan akhirnya Johannes Kojto sepakat dengan PLN untuk mengerjakan proyek di luar Jawa yakni PLTU Riau-1. Berdasarkan dakwaan Kotjo, total Sofyan Basir terlibat setidaknya sembilan pertemuan yang membahas proyek PLTU Riau-1. "(Proyek yang dikerjakan) yang di luar Jawa, yang di Riau-1," ucapnya.

Dalam kasus ini, Johanes Kotjo didakwa menyuap Eni Saragih, dan mantan Sekjen Golkar Idrus Marham sebesar Rp 4,75 miliar. Suap dilakukan agar Eni bisa membantu Johannes mendapatkan proyek Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang Riau-1 (PLTU MT Riau-1).

KOMENTAR