Polri Ungkap Peretas Website Pemerintah

Jumat , 09 November 2018 | 21:05
Polri Ungkap Peretas Website Pemerintah
Sumber Foto satryo yudhantoko
Polisi menunjukan barang bukti kasus peretas website pemerintah.

JAKARTA - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil mengungkap kasus peretasan website pemerintah yang dilakukan oleh sejumlah anak-anak di bawah umur. Tiga orang anak berumur 13, 14 dan 15 tahun telah ditahan. Sedangkan 1 orang lainnya berumur 19 tahun.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri, Kombes Rickynaldo Chairul, Jumat (9/11/2018) memaparkan, keempat orang tersebut dintaranya, inisial MSR alias G03NJ47 (14), JBKE alias Mr. 4l0ne (16) dan HEC alias DAKOCH4N (13) dan satu lagi LYC alias Mr. I4m4 (19).

Awalnya, Rickynaldo bersama tim siber crime mendapatkan laporan pada awal Juni 2018 lalu pada salah satu website milik instansi pemerintahan diretas. "Pada Juni sampai pertengahan Juli, salah satu instansi pemerintah di provinsi Sulawesi Tenggara itu mengalami serangan Hacking, yaitu menggunakan metode detresing setiap hari, setiap jam dan secara massif," katanya.

Kemudian, Siber Bareskrim melakukan pendalaman penyelidikan dan berhasil menangkap empat orang pelaku di lokasi yang berbeda-beda. "Pelaku ini kami tangkap dari beberapa daerah. Ada di Jambi, Cirebon, Mojokerto dan Kediri. Kami mengadakan penangkapan terhadap pelaku," kata Rickynaldo.

Uniknya, lanjut mantan Kapolresta Bekasi itu, keempat pelaku tersebut tidak pernah bertemu tatap muka satu sama lain. Alih-alih, selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat media sosial seperti WhatsApp dan Facebook. Komunikasi intens yang dijalani berupa sharing pengetahuan mengenai IT oleh sejumlah tutor dan diberikan chalange meretas satu website.

Terbukti, keempat pelaku itu berhasil melakukan tindak pidana defacing dan ilegal akses terhadap sejumlah website pemerintah. "Keempat pelaku ini masuk di dalam grup yang di kuasai atau dikendalikan salah satu atau beberapa orang tutor dan mereka dilatih di situ, yang belum pintar dilatih dan yang sudah pintar, dites," dia menjelaskan.

Sebagian anak-anak digrup itu, dikatakan Rickynaldo, tidak tahu bahwa mereka dites dengan maksud tertentu, diberi target membajak situs. Ketika mereka berhasil melakukannya, maka mereka akan menguploadnya ke grup itu. "Kalau untuk yang mereka lakukan itu adalah mengubah tampilan. Berbagai macam tampilan, bukan hanya satu," tambahnya.

Dari sejumlah website yang berhasil di-hack seorang berinisial JBKE alias Mr. 4l0ne (16), menampilkan tampilan website berlambang tengkorak dan "Black Hat" Cirebon. Di dalamnya tertulis, "Hacked by Mr. 4l0ne, maaf admin website anda terlalu lemah. Cirebon black hat. Contact me for fix your website."

Bukti itu, menurut Rickynaldo memperkuat dugaannya bahwa Blackhat sebagai dalang dari kejahatan yang dilakukan anak-anak di bawa umur itu.

Untuk itu, kini pihaknya masih melakukan patroli siber untuk menangkap pelaku lainnya, karena di dalam grup Whatsapp itu ada sebanyak 15 orang yang menjadi member dan baru tertangkap empat orang.

Keempat pelaku yang tertangkap terancam Pasal 46 ayat 1, 2 dan 3, juncto Pasal 30 ayat 1, 2 dan 3. Kemudian pasal 48 jo pasal 33 ayat 1 Undang-Undang No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi. Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara.(ryo)

 

KOMENTAR