Mendagri Sedih Jakarta Jadi Kota Intoleran

Jumat , 07 Desember 2018 | 19:25
Mendagri Sedih Jakarta Jadi Kota Intoleran
Sumber Foto satryo yudhantoko
Mendagri Tjahjo Kumolo

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengaku sedih melihat hasil survei Setara Institut yang menyebut Jakarta menjadi kota rawan intoleransi. Apalagi melihat salah satu tolok ukur terjadinya intoleransi adalah maraknya penggunaan politik identitas agama. Sehingga hal tersebut rentan terjadi perpecahan.

"Jangan sampai event lima tahunan menimbulkan pecah belah," katanya saat ditemui seusai menghadiri acara Penghargaan Kota Toleran di Hotel Ashley, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/2018).

Ia mengaku tidak mempermasalahkan maraknya masyarakat daerah yang datang dan atau menetap di Jakarta. Hanya saja belakangan, ia menyayangkan dengan aksi 212 tahun 2016 lalu yang menggunakan simbol agama ke dalam politik sehingga terjadi perpecahan.

"Jakarta itu kan kota majemuk. Semuanya ada. Seluruh warga negara punya hak untuk tinggal dan datang di Jakarta. Hanya saja, jangan karena beda pendapat (pilih) gubernur jadi seperti ini (pecah belah)," tuturnya.

Lebih lanjut lagi, Tjahjo akan sedih jika kedepannya pengaruh politik identitas kembali terjadi. Justru menurutnya, toleransi bisa kembali dibangun dari cara berpolitik yang berprestasi.

"Bayangkan tetangga bisa nggak kompak. kan sedih sekali. Marilah kita semakin dewasa. Jangan sampai pendekatan memecah belah (dipakai). Kuncinya prestasinya," dia menambahkan.

Sebelumnya diberitakan, Setara Institute merilis hasil survei Indeks Kota Toleran (IKT) Tahun 2018. Hasilnya, 10 kota menjadi kota tertoleran dari 94 kota yang dinilai. Jakarta sebagai Ibu Kota menempati urutan 92. Hal ini diartikan Setara Institute sebagai wilayah rawan Intoleransi. (ryo)

 

KOMENTAR