Deklarasi Dukungan dan Lemahnya Peran Parpol

Senin , 11 Februari 2019 | 09:43
Deklarasi Dukungan dan Lemahnya Peran Parpol
Sumber Foto Tribunnews.com
Ilustrasi

Makin banyaknya deklarasi dukungan kepada pasangan Capres/Cawapres memperlihatkan masifnya penggalangan dukungan bagi pemenangan Pilpres yang akan datang. Tentu saja belum merupakan jaminan bahwa banyaknya deklarasi dukungan parallel dengan besarnya suara pemilih, namun hal itu lebih memperlihatkan semakin lemahnya peran partai politik dalam menggalang massa.

Kita menyaksikan dalam sepekan terakhir digelar beberapa deklarasi dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Minggu (10/2) digelar dukungan para alumni SMA se Jakarta dan kemudian petang harinya ada deklarasi para purnawirawan TNI/Polri. Pekan lalu Presiden Jokowi menghadiri perayaan tahun baru Imlek di JIExpo, Jakarta, yang dihadiri ribuan warga Tionghoa, sedangkan Sabtu di Surabaya Jokowi menerima medali Kemerdekaan Pers yang diserahkan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional.

Sebelumnya telah digelar deklarasi dukungan kepada Jokowi-MA oleh para alumni perguruan tinggi, selain beberapa pernyataan dukungan lainnya. Bukan hanya di Jakarta, melainkan juga beberapa daerah. Ada juga dukungan dari pemilih yang tinggal di luar negeri, seperti deklarasi “Jokowi Macan Asia” di Kuala Lumpur.

Di kubu pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno juga terdapat deklarasi serupa. Misalnya dikungan alumni perguruan tingi yang digelar di gedung pencak silat, TMII, beberapa waktu lalu, Juga dukungan 300 jenderal dan ribuan purnawirawan TNI/Polri. Baik Jokowi maupun Prabowo juga memanfaatkan jaringan alumni perguruan tinggi, tak terkecuali alumni Universitas Trisakti sebagai kampus yang sangat dikenal dalam perjuangan demokrasi dan HAM.

 

Tampaknya deklarasi dukungan untuk Jokowi dikelola lebih terencana. Misalnya, panitya deklarasi alumni SMA se Jakarta dikabarkan menyebar undangan sebanyak 14.000. Demikian pula para purnawan TNI/Polri diikuti para jenderal yang pada masa lalu menjadi pimpinan.

Disana ada Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, Letjen TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Jenderal (TNI) Subagyo HS, dan Laksamana TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh. Juga Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi dan Marsekal (TNI) Agus Supriyatna. Dari Polri, diwakili oleh tiga mantan Kepala Polri, yakni Jenderal Pol (Purn) Roesmanhadi, Jenderal Pol (Purn) Da'i Bachtiar, dan Jenderal Pol (Purn) Suroyo Bimantoro. Tedks deklarasi dibacakan oleh Laksmana TNI (Purn) Arief Koesharyadi.

Ini fenomena menarik. Dalam strategi kampanye Pilpres kali ini, pasangan calon tidak lagi mengandalkan partai pendukung, melainkan melalui simpul-simpul yang riel ada di masyarakat. Hampir tidak ada parpol yang terlibat secara terbuka dalam penggalangan massa deklarator, melainkan oleh eksponen-eksponen para deklarator itu sendiri.

Bila parpol ikut menggalang dukungan, sangat mungkin tidak memperoleh sambutan baik karena citranya yang semakin rusak di mata publik. Berbagai penelitian juga menunjukkan makin buruknya citra parpol di masa publik, baik karena kasus-kasus korupsi atau aspek lainnya. Tingkat kepercayaan public kepada parpol terus merosot.

Ratusan kepala daerah yang merupakan kader-kader parpol telah terjaring kasus korupsi dan sebagian sudah dipenjara. Kasus-kasus tersebut membekas di hati masyarakat betapa kader parpol sulit dipercaya untuk memperjuangkan nasib mereka. Bila Jokowi maupun Prabowo mengandalkan jaringan parpol untuk mendulang suara, bukan hanya tidak efektif, melainkan justru bisa melemahkan upaya perolehan suara.

Posisi parpol kini terbatas untuk memberikan legitimasi dan dukungan resmi kepada siapapun yang akan mencalonkan diri sebagai Capres/Cawapres, calon gubernur/bupati dan walikota. UU yang disusun dan disahkan oleh petugas partai di DPR menempatkan aturan yang menguntungkan posisi mereka, sehingga seorang calon independen yang bagus pun akan sangat sulit maju ke gelaggang pertarungan.

Kita akan melihat bagaimana imbas dari banyaknya kasus korupsi yang menjerat kader-kader parpol dalam pemilihan umum 17 April nanti. Kita berharap masyarakat pemilih semakin cerdas dalam memberikan suara mereka. Di lain pihak parpol harus semakin mawas diri bahwa para pemilih semakin cerdas karena mereka mengamati dengan seksama perilaku para kader dan wakil-wakilnya.

 



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR