Hasto: PDIP Nggak Kemaruk Menteri di Kabinet Jokowi

Rabu , 09 Oktober 2019 | 09:26
Hasto: PDIP Nggak Kemaruk Menteri di Kabinet Jokowi
Sumber Foto Dok/Ist
Hasto Kristiyanto

JAKARTA - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tidak ingin kemaruk alias rakus dalam meraih jatah menteri di kabinet Presiden-Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Komposisi kabinet sendiri disebutnya masih diutamakan dari kalangan parpol koalisi pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.

"Ya, kata ibu Mega kan (ingin menteri) sebanyak-banyaknya. Tetapi kita juga tahu bahwa PDIP ini tidak kemaruk. PDIP memahami bahwa Indonesia harus dibangun dengan bekerja sama dengan seluruh kekuatan elemen bangsa," kata Hasto di Jakarta semalam.

Terkait nama-nama menteri yang diusulkan PDIP untuk kabinet Jokowi mendatang, Hasto mengatakan Jokowi sudah mencermati secara objektif dan mendalam sesuai kebutuhan.

Ia mengklaim siapapun yang dipilih memiliki semangat untuk mendukung sepenuhnya pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, sehingga kepemimpinan para menteri itu menyatu dengan kepemimpinan Presiden.

Dia mengungkapkan pembahasan soal kabinet sudah beberapa kali dilakukan Presiden Jokowi dengan para ketua umum dan calon kandidat menteri dari partai koalisi secara terpisah.

Hal itu dilakukan agar Presiden dapat memastikan nama-nama yang diusulkan atau dipilih berasal dari kalangan fungsional ataupun dari kepala daerah yang memiliki prestasi atau sesuai bidangnya.

Lebih jauh soal pos kementerian strategis, PDIP menilai seluruh kementerian sangat strategis dalam kerangka bertanggung jawab terhadap arah kemajuan bangsa."Jadi jangan dianggap kementerian A lebih strategis, kementerian B lebih strategis," ujarnya seperti dikutip antaranews.com.

Soal kursi menteri bagi partai oposisi, Hasto mengatakan Presiden Jokowi akan memprioritaskan parpol koalisi."Skala prioritas Pak Jokowi adalah mengedepankan terlebih dahulu para menteri terutama yang berasal dari unsur kepartaian Koalisi Indonesia Kerja," ia mengklaim.

"Tapi tentu dalam demokrasi yang sehat, koalisi sebelum pilpres dan pasca-pilpres di dalam kabinet itu seharusnya senafas dan sebangun," imbuh Hasto.

Jika dalam perjalanannya dipandang perlu melakukan konsolidasi nasional untuk memperkokoh semangat gotong-royong, Hasto menyebut hal itu akan dibicarakan nanti."Dalam penyusunan kabinet setelah bapak Jokowi-Ma'ruf dilantik tentu saja nafasnya, basis pendukungnya, itu dari Koalisi Indonesia Kerja," katanya.

"Dinamika tentu boleh saja, tapi konstruksi demokrasi yang sehat, koalisi sebelum pilpres dan pasca-pilpres adalah sebangun," ia menjelaskan.

Dia menekankan format kerja sama dengan partai di luar koalisi sejauh ini sudah berlangsung di DPR dan MPR."Format kerja sama terjadi di DPR dan MPR, di mana hubungan baik antara Ibu Megawati Soekarnoputri dengan Bapak Prabowo dijabarkan di dalam kerja sama di DPR dan MPR tersebut," dia menambahkan.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load