Pesan JK ke Ma‘ruf, Tugas Wapres Tidak Mudah

Senin , 21 Oktober 2019 | 10:25
Pesan JK ke Ma‘ruf, Tugas Wapres Tidak Mudah
Sumber Foto antarafoto
Jusuf Kalla dan Wapres Ma'ruf Amin.

JAKARTA - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengingatkan pada Wakil Presiden Ma'ruf Amin bahwa pekerjaan sebagai orang nomor dua di Indonesia tidak mudah. Berbeda dengan presiden yang bisa menerbitkan Keputusan Presiden, kata JK, selama ini wapres hanya bisa bergantung pada hasil rapat.

JK dan Ma'ruf sudah serah terima memori jabatan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Senin (21/10/2019).

"Memang tugas wapres tidak mudah. Kekuatan kita hanya hasil rapat. Kalau presiden ada Keppres, menteri ada Kepmen, tidak ada Kepwapres. Yang ada membantu presiden dan kekuatannya adalah hasil rapat," ujar JK saat memberikan sambutan dalam serah terima memori jabatan di Istana Wapres.

JK juga menyampaikan gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang selama ini kolektif kolegial. Berdasarkan pengalamannya selama ini, semua keputusan diambil dalam rapat bersama."Maka harus dipahami, harus dipersiapkan baik-baik," katanya.

Menurut JK, pekerjaan sebagai wapres cenderung berkelanjutan. Ma'ruf hanya tinggal melanjutkan pekerjaan yang belum rampung di periode sebelumnya. Ia berpesan agar Ma'ruf melanjutkan pekerjaan yang belum selesai dan meninggalkan pekerjaan yang dianggap kurang baik.

"Itu prinsip pokok dari suatu memori perpindahan pekerjaan. Di wapres tidak ada serah terima, hanya berkelanjutan. Saya 10 tahun di sini Pak, semua apa yang dikerjakan dibantu begitu banyak staf yang banyak ini," tuturnya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Jokowi dan Ma'ruf resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden setelah dilantik oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada Minggu (20/10/2019). Keduanya akan memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024.

Jokowi berharap orang-orang yang dipilihnya menjadi menteri dapat bekerja dengan keras dan cepat. Dia juga ingin para menteri tidak monoton atau selalu mengeluarkan terobosan baru.

JK sebelumnya menyampaikan akan istirahat dari perpolitikan di Indonesia dan memilih aktif di kegiatan sosial kemanusiaan.

KOMENTAR

End of content

No more pages to load