Melongok Bisnis Senpi di Cipacing (1)

Pin It

SH / Dany Putra

MESIN BUBUT - Salah satu tempat pembuatan senjata kanibal di Kampung Galumpit, Kelurahan Cileunyi Kulon, Bandung, Jawa Barat.

Perajin senpi itu mendapat pasokan komponen asli dari personel perbekalan, logistik, TNI, dan Polri

Kawasan Cipacing dan Cileunyi, Sumedang, Jawa Barat, sudah lama tersohor sebagai pusat industri senjata api (senpi) rakitan dan modifikasi. Baru-baru ini, SH mendapat kesempatan untuk melihat langsung bisnis rumahan senpi ilegal ini di dua kawasan tersebut. Tulisan akan diturunkan dalam dua edisi mulai hari ini hingga Rabu (28/8).
 
SUMEDANG - Di sebuah desa di kawasan Cipacing dan Cileunyi, Sumedang, Jawa Barat, yang tengah beranjak menjadi perkotaan itu, penduduknya ramah, saling menyapa, murah senyum, dan terbuka terhadap pendatang. Siapa sangka, di balik semua itu sebagian penduduknya ternyata terampil membuat senjata api (senpi).

Rumah-rumah warga yang kini mulai dibangun dengan beton itu menjadi industri rumahan senpi rakitan dan senpi modifikasi. Senpi made in Cipacing ini digunakan mulai dari penjahat jalanan, perampok dan penembak profesional, hingga teroris ternama untuk berbuat kejahatan.

Melongok sejarahnya, sudah sejak puluhan tahun yang lalu sebagian warga di kawasan Cipacing dan Cileunyi ini menggeluti pembuatan senjata.

Berawal dari bisnis kerajinan senapan angin, dua kawasan tersebut ramai dikunjungi oleh para pemburu kelas teri. Tahun demi tahun berlalu, Cipacing semakin terkenal. Pesanan senapan angin hingga kini pun masih berdatangan dari pelosok negeri.

Beberapa kawasan yang dilintasi SH, seperti di Jalan Raya Cipacing, tampak beberapa toko memajang beragam senapan angin. Mulai dari ukuran besar hingga kecil. Bahkan, bengkel motor dan warung makan ikut memajang dan menjual senapan angin bagi siapa saja yang berminat membelinya.

Sayang, tidak ada warga yang mengetahui pasti sejak kapan bisnis senapan mulai digeluti warga sekitar. Menurut pengakuan seorang warga, sebut saja Dadang, kawasan Cipacing dan Cileunyi mulai berubah menjadi kawasan perakit senpi sekitar tahun 2000-an.

Awalnya ada aparat yang melihat warga pandai membuat senapan angin, lalu diminta untuk mereparasi senpi. Warga tersebut menyanggupi. Hasilnya ternyata cukup memuaskan. Warga yang mempunyai keahlian itu, mampu memodifikasi senpi yang hampir tak bisa dipakai lagi.

Dari situ, nama Cipacing mulai terkenal. Rupanya hal ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan mengiming-imingi uang bagi warga agar membuat senpi rakitan dan senpi modifikasi.

Pemodal tersebut membekali warga dengan peralatan berbagai macam mesin bubut. Pemodal pula yang mendapatkan senpi dari berbagai sumber, termasuk aparat nakal. Hasil senpi rakitan dan modifikasi itu kemudian dijual kembali dengan harga jutaan hingga puluhan juta rupiah.

Industri Rumahan

Beruntung, SH dan beberapa media lainnya diajak oleh Subdit Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Metro Jaya untuk menelisik perkampungan industri rumahan senpi ilegal di Cipacing dan Cileunyi.

Senin (26/8) siang, Subdit Jatanras akan membawa mesin bubut yang digunakan Asep Barkah (36) asal Kampung Galumpit, salah satu penjahat yang ditangkap, sebagai barang bukti. Barkah ditangkap, lantaran kedapatan membuat senpi jenis FN.

Di rumahnya, Jalan Haji Amin, RT 1/RW 17, Cileulenyi Kulon, Kampung Galumpit, Sumedang, itulah pelaku mengerjakan pesanan senpi modifikasi. Bermodal dua buah mesin bubut berdaya 1.500 watt, Barkah mengerjakan pesanan senpi. Barkah mengaku menjalani bisnis tersebut sejak dua tahun lalu. "Dalam satu bulan saya bisa mengerjakan 10 senpi rakitan dan modifikasi. Itu juga tergantung pesanan," katanya.

Barkah mengatakan, dia hanya menjalani proses pembuatan senpi. Dia tidak tahu-menahu senpi itu bakal digunakan oleh siapa dan untuk apa. "Ya saya hanya terima upah dari membuat senjata. Yang jual itu urusan bos yang meminta saya untuk membuat senjata. Mesin ini juga dari dia yang modalin," ujarnya.

Tepat di depan rumah Barkah, yang hanya berjarak 10 meter terdapat rumah warga berinisial B. Warga tersebut menjadi incaran polisi lantaran bengkel bubutnya diduga ikut memproduksi senpi rakitan dan modifikasi.

Pantauan SH, dalam rumah bercat hijau tersebut terdapat sebuah ruangan mirip garasi mobil berukuran 2,5 x 5 meter. Ruangan itu tersambung ke ruangan di sebelahnya yang juga mirip garasi dengan ukuran lebih kecil. Di kedua ruangan itu terdapat puluhan mesin bubut dan ratusan komponen untuk membuat senpi.

Namun menurut pengakuan warga sekitar, rumah itu hanya memproduksi senapan angin. Pemilik rumah sudah melakukan bisnis tersebut sejak 10 tahun. Senapan buatannya dikerjakan berdasarkan jumlah pesanan. "Pemesannya banyak, dari Jakarta dan Pulau Jawa," kata warga.

Dua Cara

Kasubdit Jatanras Direskrimum Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Herry Heryawan di lokasi menjelaskan, saat ini senpi buatan Cipacing berkembang menjadi dua cara. Pertama, senpi dibuat 100 persen buatan tangan. Modelnya pun meniru jenis senpi yang sudah ada. Namun, cara pertama tersebut tidak populer di mata para pemesan senpi rakitan.

Menurutnya, cara kedua inilah yang populer beberapa tahun belakangan, yakni cara kanibal. Perajin senpi memadukan dan memodifikasi air softgun dengan komponen senpi asli.

Perajin senpi yang dulunya cuma pembuat senapan angin itu mendapat pasokan komponen senpi asli dari personel perbekalan, logistik, TNI dan Polri yang nakal. "Para personel tersebut seharusnya setelah menyortir senpi yang sudah tidak layak pakai, memusnahkan seluruh senpi tak layak pakai tersebut," tuturnya.

Sebelum dirakit atau dimodifikasi, senpi tak layak pakai itu dibongkar terlebih dahulu. Para perajin memisahkan beberapa komponen yang masih dianggap layak pakai. "Komponen-komponen senpi yang masih bagus kemudian dijual atau ditukar dengan peluru-peluru tajam," imbuhnya.

Herry mengungkapkan, setiap senpi rakitan dan modifikasi yang berkualitas bagus bisa dibanderol di atas Rp 10 juta. Namun, jika hasil senpinya masih kasar atau berkualitas buruk, maka akan dijual Rp 3-5 juta.

"Sedangkan si perajin, hanya diberi upah dari si pemodal ratusan ribu hingga jutaan rupiah tiap kali membuat senpi rakitan dan modifikasi," ujarnya.

Sayang, Herry masih enggan menyebutkan nama-nama yang terlibat dalam kasus perburuan senpi rakitan dan modifikasi ini. Dia juga tak bersedia menjelaskan rinci peta biru proses perdagangan senpi gelap ini.

Ia hanya mengajak media mengikuti proses penyidikan kasus ini. "Silakan tulis yang Anda lihat, Anda dengar, Anda dapatkan di lapangan. Saya hanya ingin meyakinkan bahwa kasus ini bukan kasus rekayasa. Ini benar terjadi. Silakan telisik sendiri," cetusnya.


Sumber : Sinar Harapan