Wartawan Asing Prihatin Upah Wartawan Indonesia

Pin It

SH / Job Palar

Konferensi pers di KPK/Ilustrasi.

“Saya begitu kaget karena rata-rata standar gaji mereka sangat kecil."

JAKARTA – Upah atau gaji wartawan nasional Indonesia memprihatinkan dalam pandangan wartawan asing yang telah malang melintang bekerja untuk media internasional dan Indonesia.

"Saat saya mendirikan salah satu koran berbahasa Inggris di Jakarta beberapa waktu lalu, saya sempat melakukan wawancara dengan sejumlah wartawan dan ketika mengetahui gaji terakhir yang mereka terima dari media sebelumnya, saya begitu kaget karena rata-rata standar gaji mereka sangat kecil," ujar Joe Cochrane, koresponden dan editor The New York Times yang berbasis di Jakarta dalam diskusi tertutup yang digelar Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Selasa (28/1)

Selain Joe, yang kini bekerja sebagai koresponden Indonesia untuk International New York Times dan Ketua Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC), diskusi juga menghadirkan wartawan Sam Reeves, yang bergabung dengan Kantor Berita Internasional Agence France Presse (AFP) sejak lima tahun silam.

Secara pribadi, Joe yang telah meliput berita di Indonesia dan Asia Tenggara selama 17 tahun untuk sejumlah media internasional terkemuka, yaitu Newsweek, The Economist, Financial Times, Asia Wall Street Journal, The New York Times, dan The Washington Post ini, menyatakan sangat galau ketika berbicara tentang masalah gaji wartawan Indonesia. Menurut dia seharusnya pimpinan media mengerti bahwa pekerjaan wartawan itu sangat berisiko tinggi sehingga para jurnalis juga harus dibayar sesuai tanggung jawab dan risiko pekejaan mereka. Ia juga menyatakan sangat mendukung upaya perbaikan gaji atau peningkatan standard gaji para wartawan nasional.

"Standard gaji yang mereka terima setiap bulannya harus sesuai dengan risiko keselamatan nyawa mereka sebagai wartawan peliput," ujar mantan wartawan perang yang beberapa kali mendapat tugas liputan di Irak, Afganistan, dan Pakistan ini dalam diskus yang dihadiri para mahasiswa dan wartawan nasional ini.

Isu Nasional
Terkait isu yang kerap menjadi sorotan media internasional menyangkut Indonesia sepanjang 2013 adalah soal terorisme dan ancaman dari kelompok pendukung Islam ekstremis terhadap pergelaran Miss World International yang digelar di Bali, baru-baru ini. Baik Joe maupun Sam--yang mengawali kariernya sebagai jurnalis dan editor berita Eropa-Afrika di markas AFP di Paris--menyatakan rata-rata publik internasional selalu ingin  tahu bagaimana sepak terjang para teroris di Indonesia. Padahal, Sam yang juga pernah menjadi reporter AFP di London dan Hongkong ini tahu persis bahwa pemberitaan media asing kebanyakan berlebihan menyangkut ini.

"Saya tahu sendiri bagaimana situasi dan kondisi sesungguhnya di negeri ini. Pemberitaan media-media asing memang kerap berlebihan, karena mereka mengerti kalau pemberitaan berlebihan itu yang akan mengundang daya tarik pembaca. Tapi, saya lebih suka memberitakan yang sesungguhnya yang saya lihat dengan mata dan kepala saya sendiri," ujar pria yang menempati posisi editor dan Wakil Kepala Biro AFP di Jakarta ini.

"Memang karena pemberitaan yang selalu berlebihan itu yang akhirnya berdampak buruk bagi Indonesia. Saya sendiri mengerti kalau kebanyakan muslim di Indonesia adalah muslim moderat. Tapi, ada kelompok tertentu yang kerap memberitakan sesuatu yang tak bisa dimengerti sehingga pandangan publik internasional terhadap Indonesia sangat buruk. Ini sesungguhnya sangat sulit diterima," ujar Sam yang  diamini Joe.

Soal Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi yang juga dijagokan sebagai salah satu kandidat presiden dalam pemilu mendatang juga menjadi perhatian luar biasa media asing. Mereka kerap membahas Jokowi sehingga sosoknya sudah sangat dikenal. Joe dan Sam sama-sama menyatakan bahwa Jokowi memang punya magnet tersendiri bagi media internasional.

Sumber : Sinar Harapan