OJK Pesimistis Uang Nasabah Investasi Kampoeng Kurma Kembali 100 Persen

Selasa , 19 November 2019 | 12:30
OJK Pesimistis Uang Nasabah Investasi Kampoeng Kurma Kembali 100 Persen
Sumber Foto : Istimewa
Kampoeng Kurma

JAKARTA - Satgas Waspada Investasi OJK 
memprediksi uang investasi korban PT Kampoeng Kurma kemungkinan besar tidak bisa kembali 100 persen. Pasalnya menurut mereka, manajemen Kampoeng Kurma kemungkinan besar telah menggunakan uang hasil investasi nasabah.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan perkiraan soal pemakaian uang tersebut didasarkan pada kasus sebelumnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam ( KSP) Pandawa Mandiri Group (PMG) dan First Travel. Saat itu, karena uang sudah dipakai, akhirnya nasabah hanya berhasil mendapatkan sekitar 10 persen-15 persen investasi mereka.

"Semakin mudah dia dapat uang semakin mudah dia keluarkan uang," ujarnya, Senin (18/11/2019).

Saat ini, lanjutnya, kasus Kampoeng Kurma tersebut telah ditangani oleh Bareskrim Polri. Karenanya, ia meminta para korban investasi bodong Kampoeng Kurma segera melapor kepada pihak berwajib sehingga proses hukumnya makin cepat.

"Satgas Waspada Investasi juga melakukan tindakan pengumuman kepada masyarakat kemudian kami minta kepada Kominfo untuk blokir situs website dan aplikasinya," imbuhnya.

Modus investasi bodong Kampoeng Kurma adalah menjual kavling seluas 400 meter persegi sampai 500 meter persegi yang ditanami lima pohon kurma. Setelah 4-5 tahun nasabah diimingi hasil investasi sebesar Rp 175 juta per tahun selama 100 tahun.

Ia menyatakan tawaran investasi tersebut tidak rasional, sehingga pihaknya memutuskan untuk menghentikan kegiatan bisnis Kampoeng Kurma sejak 28 April 2019.

Ia mengimbau masyarakat untuk senantiasa berhati-hati serta tidak mudah tergiur dengan tawaran investasi bodong.

"Kalau ada penawaran investasi ilegal atau sangat menggiurkan kenali dulu dua 'L', yaitu legal dan logis," ucapnya.

Irvan Nasrun, salah satu investor di Kampoeng Kurma, menyatakan perusahaan menawarkan investasi kepadanya sekitar akhir 2016 dan awal 2017. Tergiur dengan janji manis itu, ia membeli tiga kavling senilai Rp 99 juta dan empat kavling dengan harga Rp 30 juta.

Sayang, hingga detik ini Irvan belum memegang Akta Jual Beli (AJB) atas kavling yang ia beli pada 2017 lalu. Pohon kurma dan kolam ikan lele yang dijanjikan pun tidak tampak di kavling yang ia beli.

"AJB sampai sekarang belum ada, bahkan banyak yang lokasinya tidak sesuai dengan perjanjian. Misalnya beli di mana, jadi di mana. Ada yang beli di Jonggol jadinya di Cirebon," papar dia.



Sumber Berita: CNN Indonesia
KOMENTAR

End of content

No more pages to load