Banjir di Jepang, Korban Tewas Dekati 100 Orang  

Senin , 09 Juli 2018 | 11:25
Banjir di Jepang, Korban Tewas Dekati 100 Orang   
Sumber Foto reuters
Petugas penyelamat berusaha mengevakuasi korban banjir di Jepang.

TOKYO - Korban tewas akibat banjir dahsyat di Jepang nyaris mencapai 100 orang. Sementara 58 orang dinyatakan hilang. Kondisi itu diperburuk karena aliran listrik juga mati.

Petugas penyelamat terus berjibaku menggali timbunan lumpur dan puing-puing untuk mencari korban selamat.

Kantor Berita Reuters, Senin (9/7/2018) melaporkan, banjir dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah Jepang bagian barat sejak pekan lalu. Selain banjir, hujan lebat juga memicu tanah longsor di sejumlah area.

Awal pekan ini, langit cerah dan matahari yang mulai muncul diperkirakan akan memicu suhu udara di atas 30 derajat Celsius. Kondisi ini dikhawatirkan berujung pada gelombang panas di sejumlah area yang akses terhadap listrik dan air terputus akibat banjir.

"Kami tidak bisa mandi, toilet tidak berfungsi dan persediaan makanan semakin menipis," tutur Yumeko Matsui yang rumahnya di Mihara tidak mendapat suplai air sejak Sabtu (7/7/2018) lalu.

"Air dalam kemasan dan teh dalam botol telah ludes di toko-toko kelontong dan toko lainnya," dia menyebutkan.

Dilaporkan perusahaan listrik setempat, sekitar 12.700 pelanggan belum juga mendapat aliran listrik hingga Senin (9/7/2018) ini. Puluhan ribu orang lainnya tidak mendapat suplai air bersih.

Televisi nasional Jepang, NHK, melaporkan, korban tewas akibat hujan lebat dan banjir dahsyat di Jepang sejauh ini mencapai 94 orang. Sedangkan sekitar 58 orang lainnya dilaporkan hilang. Banjir ini memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah masing-masing.

Jumlah korban tewas itu tercatat sebagai yang tertinggi setelah 98 orang tewas akibat badai di Jepang tahun 2004 lalu.

Hingga Senin (9/7/2018) ini, banjir mulai surut meskipun genangan air masih memenuhi wilayah Kurashiki, Okayama, yang terdampak banjir paling parah. Ribuan orang memenuhi kamp pengungsian di Mabi, salah satu distrik di Kurashiki, Okayama.

"Orang-orang tidak punya apapun untuk dipakai. Kita butuh kaos, celana, pakaian dalam, kaos kaki dan bahkan sepatu," tutur Wali Kota setempat, Kaori Ito, kepada surat kabar Asahi Shimbun.

Kantor Perdana Menteri Jepang telah mendirikan pusat penanggulangan darurat, dengan sekitar 54 ribu petugas penyelamat yang terdiri atas personel militer, kepolisian dan petugas pemadam kebakaran, dikerahkan ke berbagai wilayah yang dilanda banjir dan longsor.

Otoritas Jepang selalu memantau cuaca dan merilis peringatan dini, namun populasi padat di berbagai wilayah termasuk area pegunungan membuat warga Jepang selalu rawan terkena bencana alam.

KOMENTAR