Presiden Kim Naik Kereta ke Hanoi Temui Donald Trump

Minggu , 24 Februari 2019 | 09:20
Presiden Kim Naik Kereta ke Hanoi Temui Donald Trump
Sumber Foto CNBC.com
Presiden Korea Utara Kim Jong Un

JAKARTA--Presiden Korea Utara Kim Jong Un telah meninggalkan Pyongyang menuju Hanoi, Vietnam, dengan menumpang kereta api untuk mengadakan pertemuan dengan Presidan AS Donald Trump yang akan berlangsung pekan ini. 

Dalam laporan kantor berita resmi Korea Utara KCNA seperti dikutip Reuters, Minggu (24/2) dikabarkan bahwa delegasi Kim antara lain utusan utama Korut untuk AS Kim Yong Chol, Wakil Ketua Komite Pusat Partai Pekerja Korut Ri Su Yong, dan Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong Ho. Adik Kim Jong Un, yaitu Kim Yo Jong, juga turut serta. Pejabat senior Korut lainnya seperti 'tangan kanan' Kim Jong Un, yaitu Kim Chang Son dan Kim Hyok Chol, mitra negosiasi utusan AS Stephen Biegun, sudah berada di Hanoi untuk mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Vietnam mengumumkan pada Sabtu (23/2/2019) bahwa Kim akan melakukan kunjungan resmi ke Vietnam dalam "hari-hari mendatang" atas undangan Nguyen Phu Trong, presiden dan sekretaris jenderal Partai Komunis yang berkuasa di negara Asia Tenggara itu.

Perjalanan ke Vietnam dengan kereta api membutuhkan waktu paling tidak dua setengah hari mengingat jarak Pyongyang dan Hanoi mencapai ribuan kilomter. Pada 26 Februari, Vietnam akan melarang lalu lintas di jalan yang diperkirakan akan ditempuh Kim ke Hanoi dari sebuah stasiun di perbatasan Cina, kata media pemerintah.

Perjalanan dengan kereta api telah menjadi moda transportasi favorit bagi Kim Jong Un, seperti halnya sang ayah Kim Jong Il dan sang kakek Kim Il Sung. Ketika Kim Il Sung mengunjungi Hanoi pada 1958, ia melakukan perjalanan dari Pyongyang ke Beijing dengan kereta api, kemudian terbang ke Hanoi dengan pesawat yang disediakan oleh China, Yonhap News Agency Korea Selatan melaporkan pada Sabtu (23/2/2019) mengutip arsip laporan media Cina.

Trump dan Kim akan bertemu di Hanoi delapan bulan setelah pertemuan puncak bersejarah mereka di Singapura. Saat itu, Trump dan Kim berjanji untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh di semenanjung Korea. Menurut para analis, hal itu menunjukkan sedikit kemajuan. 

"Mereka tidak akan membuat perjanjian yang memecah aliran diplomasi saat ini. (Presiden Trump) telah menyebutkan bahwa mereka akan bertemu lagi bahkan jika ada perjanjian tingkat rendah, mereka akan berusaha untuk menjaga segala sesuatunya bergerak," kata Shin Beom-chul, analis di Institut Asan.


Pemerintahan Trump telah menekan Korut untuk menghentikan program senjata nuklir yang dapat mengancam AS. Di sisi lain, Korut menginginkan pelonggaran hukuman yang dipimpin oleh AS, jaminan keamanan dan akhir resmi Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian.

Kedua pihak berada di bawah tekanan untuk membentuk perjanjian yang lebih spesifik dari pada yang dicapai pada KTT Singapura, menurut para kritikus khususnya di AS.



Sumber Berita:CNBCIndonesia
KOMENTAR

End of content

No more pages to load