Sambil Terisak, PM Inggris Theresa May Mundur

Jumat , 24 Mei 2019 | 21:25
Sambil Terisak, PM Inggris Theresa May Mundur
Sumber Foto Reuters
PM Inggris Theresa May
POPULER

LONDON - Sambil terisak, Perdana Menteri Inggris Theresa May akhirnya mengundurkan diri setelah perjuangan panjang Brexit-nya berakhir buntu.

Kepergian May akan memperdalam krisis Brexit karena pemimpin baru kemungkinan menginginkan perpecahan yang lebih tegas, meningkatkan kemungkinan konfrontasi dengan Uni Eropa dan kemungkinan pemilihan cepat parlemen yang tidak dapat diprediksi.

Dengan emosional, Theresa May, yang mengalami krisis dan penghinaan dalam usahanya yang gagal untuk menemukan konsensus Brexit di parlemen, mengatakan dia akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif pada 7 Juni dan pemilihan kepemimpinan dimulai minggu berikutnya.

"Saya akan segera meninggalkan pekerjaan yang telah menjadi kehormatan hidup saya," kata May di luar kediaman resminya di Downing Street seperti dikutip reuters, Jumat (24/5/2019).

"...sebagai perdana menteri perempuan kedua, tapi tentu saja bukan yang terakhir," tutur May.

"Saya melakukannya tanpa niat buruk tetapi dengan rasa terima kasih yang luar biasa dan abadi untuk memiliki kesempatan untuk melayani negara yang saya cintai," kata May, didampingi suaminya, Philip.

"Saya merundingkan persyaratan keluar kami dan hubungan baru dengan tetangga terdekat kami yang melindungi pekerjaan, keamanan kami dan Serikat kami. Saya telah melakukan semua yang saya bisa untuk meyakinkan anggota parlemen untuk mendukung kesepakatan itu. Sedihnya, saya belum bisa melakukannya. Saya mencoba tiga kali...Tetapi sekarang jelas bagi saya bahwa adalah kepentingan utama negara bagi Perdana Menteri baru untuk memimpin upaya itu," tegas May dalam pidatonya seperti disiaran CNN.

"Jadi saya hari ini mengumumkan bahwa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Konservatif dan Unionis pada hari Jumat 7 Juni sehingga seorang pengganti dapat dipilih," May menambahkan.

May, yang pernah menjadi pendukung setengah hati keanggotaan Uni Eropa dan memenangkan kursi perdana menteri dalam kekacauan referendum Brexit 2016, akhirnya mundur bersama janjinya untuk memimpin Inggris keluar dari blok."Ini, dan akan selalu tetap, akan menjadi penyesalan yang mendalam bagi saya bahwa saya belum dapat memberikan Brexit," kata Theresa May.

Dia berharap penggantinya harus menemukan konsensus untuk menghormati hasil referendum Brexit 2016.

 



Sumber Berita: tempo.co
KOMENTAR

End of content

No more pages to load