LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba

Selasa , 10 Juli 2018 | 21:35
LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba
Sumber Foto mediamaya.net
Danau Toba di Sumatera Utara.

JAKARTA - Danau Toba di Sumatera Utara telah ditetapkan sebagai destinasi wisata berdasarkan Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2014. Namun demikian masih terdapat berbagai permasalahan yang harus diperbaiki.

Salah satunya adalah kualitas lingkungan Danau Toba yang masih jauh dari kondisi baik. Kondisi kualitas air Danau Toba telah mengalami penurunan dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya.

Karena itu, pentingnya perbaikan kualitas air Danau Toba. Terkait hal itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Limnologi melakukan kajian kajian daya dukung ekosistem Danau Toba melalui pendekatan yang lebih sistemik.

Hasil kajian itu disampaikan dalam Media Briefing bertajuk “LIPI Kaji Ekosistem Danau Toba untuk Perbaikan Kualitas Air” di Media Center LIPI Pusat, Jakarta, Selasa (10/7/2018). 

Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Fauzan Ali mengatakan, berbagai penelitian telah dilakukan dalam rangka membantu perbaikan kualitas air Danau Toba. Salah satunya adalah perhitungan daya dukung lingkungan Danau Toba yang memberikan rekomendasi batasan jumlah produksi perikanan sehingga diharapkan status kualitas air Danau Toba pada kondisi paling baik. Namun demikian kajian-kajian daya dukung yang telah dilakukan belum menggambarkan kondisi alamiah Danau Toba.

Puslit Limnologi LIPI telah melakukan kajian daya dukung ekosistem Danau Toba melalui pendekatan yang lebih sistemik dengan mensimulasikan interaksi komponen-komponen penyusun ekosistem Danau Toba, baik fisik, biologi, kimia hingga meteorologinya. “Pendekatan yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan mengintegrasikan pergerakan air (hidrodinamika) Danau Toba dengan seluruh material yang terkandung di dalamnya, sehingga hasil yang didapatkan lebih mendekati kondisi alaminya,” ujarnya.

Menurut Fauzan, kajian ini mensimulasikan hidrodinamika perairan Danau Toba beserta ekosistem pendukungnya dengan menggunakan system komputasi numerik. “Dengan simulasi ini pergerakan arus, pergerakan material (termasuk material pencemar), serta pertumbuhan fitoplankton di Danau Toba dapat diketahui. Sehingga, kondisi ekosistem danau dapat diproyeksikan kedepannya,” tuturnya.

Oleh karena itu, dia menjelaskan bahwa dalam kajian ini, Puslit Limnologi LIPI telah mensimulasikan bagaimana keberadaan keramba jaring apung terhadap kondisi kualitas air Danau Toba. Didapatkan bahwa untuk mendapatkan kualitas air Danau Toba pada kondisi baik (oligotrofik) sesuai dengan rekomendasi mendukung rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Pemerintah provinsi Sumatera Utara, maka jumlah keseluruhan keramba jaring apung di Danau Toba adalah 543 petak dengan asumsi produksi ikan 1430 ton pertahun. Perhitungan ini jauh di bawah rekomendasi pemerintah dan kajian-kajian sebelumnya yang menetapkan total produksi hingga 10.000 ton per tahun.

Fauzan berharap bahwa kajian ini diharapkan dapat mendukung pemerintah pusat maupun daerah dalam usaha perbaikan kualitas air Danau Toba dalam mendukung iklim investasi pariwisata. “Simulasi numerik ini diharapkan juga dapat diaplikasikan dalam penyusunan konsep pengelolaan ekosistem pada danau-danau lainnya di Indonesia,” Fauzan menambahkan.(pr/nm)

 

 

KOMENTAR