Lion Air Tabrak Tiang, KNKT Soroti Sistem Hazard Operator

Jumat , 09 November 2018 | 15:07
Lion Air Tabrak Tiang, KNKT Soroti Sistem Hazard Operator
Sumber Foto Dok/Ist
Pesawat Lion Air menabrak tiang lampu di Bandara Fatmawati Bengkulu.

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti sistem hazard yang diterapkan operator Bandara Fatmawati, Bengkulu dan operator pesawat Lion Air. Pasalnya, kejadian pesawat Lion Air yang menabrak tiang lampu pada Rabu, (7/11/2018) lalu, diduga karena kelalaian pihak terkait terhadap metode keselamatan transportasi udara atau pesawat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, pihaknya belum menerima laporan terkait insiden itu. Namun, hal terpenting dari kecelakaan tersebut ialah penerapan sistem hazard.

"Kami belum sempat. Kami hanya minta nanti hasilnya apa dan yang paling penting di sini adalah hazard-nya apa," ujar Soerjanto saat ditemui di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (9/11/2018).

Sistem hazard merupakan satu sistem manajemen keselamatan transportasi udara, yang harus semaksimal mungkin diterapkan oleh operator bandara dan operator pesawat. Hal itu diatur di dalam Undang-Undang No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, Bab XIII tentang "Keselamatan Penerbangan dan Sistem Manajemen Keselamatan Penyedia Jasa Penerbangan".

Peraturan ini menguraikan persyaratan untuk suatu penyedia layanan Safety Management System (SMS) yang beroperasi sesuai dengan ICAO Annex 6 - Operation of Aircraft, ICAO Annex 11 - Air Traffic Services, dan ICAO Annex 14 – Aerodromes.

Dalam hal ini, Soerjanto menekan agar sistem hazard diperhatikan oleh pihak-pihak terkait. "Baik operator bandara ataupun pesawat itu harus semaksimal mungkin melihat hazard-hazard-nya. Karena semua kecelakaan itu di dalam sistem keselamatan, sangat ditekankan untuk kita bisa mengidentifikasi hazard. Kita harus mampu memitigasi," ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Soerjanto menyayangkan peranan operator bandara dan pesawat yang lalai memperhatikan upaya mitigasi yang bersandar pada sistem hazard. "Saya pikir kemampuan para personil semuanya, baik para penumpang, itu kalau kita melihat hazard, kita harus melaporkan bahwa itu berbahaya," dia menambahkan.(ryo)

 

KOMENTAR