Dr Terawan Perkenalkan DSA di Jerman

Senin , 16 April 2018 | 11:05
Dr Terawan Perkenalkan DSA di Jerman
Sumber Foto handout/leo nababan
Dr Terawan berfoto bersama BJ Habibie di Jerman.
POPULER

JAKARTA - Metode digital substraction angiography (DSA) atau Cuci Otak yang ditemukan dokter Terawan Agus Putranto tersohor hingga ke dunia internasional. Dr Terawan bahkan memenuhi undangan Rumah Sakit Krankenhaus Nordwest Jerman guna mengenalkan metode cuci otak itu.

Ia menjalani riset bersama para dokter di Jerman berdasarkan video yang diterima dari salah satu pasiennya. Dr Terawan hingga saat ini masih RS Kraukenhause di Jerman yang mengajaknya riset bersama.

Terawan menyatakan tengah memenuhi undangan RS terkenal di Jerman sekaligus menunjukkan kemampuan dan kepakaran dokter Indonesia."Ya, sekalian menunjukkan kesejajaran ilmu orang Indonesia dengan teman-teman di Jerman. Jangan sampai kami di Indonesia hanya dianggap main ngeyel saja dan tidak ilmiah. Sedangkan negara lain sangat menghargai. Kalau bisa nangis saya nangis tenan karena sedih, " ujarnya kepada media.

Dalam kiriman foto Leo Nababan melalui grup WhatsApp, dr Terawan tampak sedang berada di dalam rumah sakit dengan beberapa dokter Jerman. Selanjutnya, dr Terawan bertemu dengan Presiden ke-3 BJ. Habibie.

Terapi cuci otak dengan Digital Substraction Angiography (DSA) diklaim dr Terawan bisa menghilangkan penyumbatan di otak. Penyumbatan pada otak  menjadi penyebab stroke. Namun, metode cuci otak yang dikenalkan Terawan menuai pro dan kontra.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Kepala RSPAD Gatot Subroto, dr Terawan Adi Putranto begitu sedih mendengar pemberitaan dirinya diberhentikan dari keanggotaan IDI sementara waktu. Padahal, banyak yang mengaku hasil pekerjaan dr Terawan berhasil, termasuk sejumlah politisi ternama hingga seorang perdana menteri.

Kepada rombongan Komisi I DPR, dia bahkan mengaku belum sempat menerima surat yang saat ini tengah diviralkan tersebut."Jujur, saya sedih mendengar ini. Sampai sekarang bahkan saya tidak tahu suratnya seperti apa?" katanya di Aula Utama Gedung RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Kepada anggota Komisi I DPR, dia menjelaskan, surat itu sebenarnya merupakan surat rekomendasi rahasia atas sidang yang sudah dilakukan pada 2015 lalu. Ketika itu, sudah tidak ada lagi permasalahan mengenai cara dia melakukan perawatan dengan metode DSA. Pasalnya, metode itu sudah melalui riset enam orang doktor dan menghasilkan 12 jurnal ilmiah.

"Metode ini juga sudah saya presentasikan di Universitas Hasanudin, Makassar bersama lima orang doktor lainnya. Soalnya, ini juga menjadi disertasi saya," dia menambahkan.



Sumber Berita: tribunnews.com
KOMENTAR