Harapan Jaya Suprana


Surat Terbuka untuk TW

Kamis, 12 Nopember 2015 | dibaca: 23596

Perjuangan Gus Dur menegakkan pilar-pilar pluralisme, dengan mewujudkan Undang-Undang Anti-Diskriminasi Ras di persada Nusantara.

Saya sempat mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur atas perjuangan menegakkan pilar-pilar pluralisme, dengan mewujudkan Undang-Undang Anti-Diskriminasi Ras di persada Nusantara. Berkat jasa Gus Dur, Imlek diresmikan sebagai hari raya nasional di Indonesia. Namun, Gus Dur berpesan agar saya jangan takabur menganggap UU itu sebagai anugerah hak. Pada hakikatnya, UU Anti-Diskriminasi Ras justru beban kewajiban tanggung-jawab.

Gus Dur mewanti-wanti, jangan sampai saya ingkar kenyataan bahwa saya memang warga Indonesia keturunan Tionghoa. Bukan berarti membenarkan rasialisme. Namun, Gus Dur memang menegaskan fakta sejarah bahwa di Indonesia warga keturunan Tionghoa telah berulang kali menjadi sasaran kekerasan rasialisme. Gus Dur menasehati saya agar senantiasa eling, bahwa selama jurang kesenjangan sosial masih hadir di Indonesia, selama itu pula rasa tidak suka terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa niscaya tetap hadir, seperti api dalam sekam yang setiap saat siap kembali berkobar.  

Dengan hadirnya UU Anti-Diskriminasi Ras, Gus Dur justru berpesan saya selalu mau dan mampu mengendalikan diri agar jangan bersikap takabur, sombong, jemawa, dan mentang-mentang. Sepenuhnya saya mahfum bahwa Gus Dur sama sekali bukan merasiskan diri, melainkan sekadar menyarankan saya agar selalu ojo dumeh, rendah hati, sadar diri, mawas diri, kendali diri demi mencegah dampak “setitik nila merusak susu sebelanga” memicu kebencian yang siap merambah dari saya ke segenap warga Indonesia keturunan Tionghoa. Gus Dur sekadar mengingatkan saya atas kenyataan etnososiobiologis, bahwa saya memang apa-boleh-buat de facto keturunan Tionghoa.

Sebagai warga Indonesia yang baik, seharusnya saya bukan bertanya tentang apa yang negara dan bangsa dapat perbuat bagi diri saya, melainkan justru apa yang dapat saya perbuat bagi negara dan bangsa Indonesia. Saya bersyukur sebenarnya wejangan Gus Dur telah nyata diwujudkan para tokoh nasional, seperti Yap Thiam Hien, Kwik Kian Gie, Teguh Karya, Nano Riantiarno, Tan Joe Hok beserta para pendekar bulu tangkis yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia, para pejuang kemanusiaan yang tergabung di Buddha Tzu Chi Indonesia, Eka Tjipta Foundation, Djarum Foundation, dan lain sebagainya. 

Tokoh warga Indonesia keturunan Tionghoa yang termutakhir layak menjadi teladan adalah Tomy Winata (TW). Tidak kurang dari menteri perdagangan yang lama maupun yang baru, telah menegaskan, tanpa Tomy, paviliun Indonesia di World-Expo Milan 2015 mustahil terlaksana. Dubes RI untuk Italia, Agus Parengkuan, adalah saksi hidup yang menyaksikan betapa paviliun Indonesia di World-Expo Milan 2015, yang semula mati-suri akibat nyaris batal karena kesulitan manajemen dan keuangan, sejak April 2015 berhasil dihidupkan kembali oleh laskar Arta Graha Peduli di bawah pimpinan Tomy.

Ibu Mega, Ibu Nuriah, Mbak Yenny, dan Inayah Wahid juga sempat singgah demi melihat betapa para pengunjung antre panjang untuk mengagumi paviliun Indonesia di Milan World-Expo 2015. Bahkan, kemudian paviliun Indonesia dengan lebih dari 4 juta pengunjung berhasil menduduki peringkat paviliun terpopuler kedelapan, di antara lebih dari 100 paviliun mancanegara dalam gelanggang pameran dunia bergengsi itu.

Pengambilalihan tugas penyelenggara paviliun Indonesia di Milan sebagai ajang promosi, benar-benar merupakan suatu darma bakti pengabdian tanpa pamrih komersial. Penyelenggaraan pameran akbar tersebut dijamin secara finansial dan bisnis pasti merugi. 

Pamrih yang diperoleh dari paviliun Indonesia di Milan World-Expo 2015 memang semata murni rasa bangga menjunjung tinggi harkat dan martabat mahakarya peradaban dan kebudayaan Nusantara di arena pameran dunia. Saya yakin, arwah Gus Dur tersenyum bangga menyaksikan darma bakti pengabdian kebudayaan yang dipersembahkan Tomy beserta laskar Artha Graha Peduli, melalui penyelamatan paviliun Indonesia di World-Expo Millan 2015. 

Melalui surat terbuka ini, dengan penuh kerendahan hati saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya, atas karsa dan karya darma bakti pengabdian TW menjunjung tinggi harkat dan martabat peradaban dan kebudayaan bangsa Indonesia, di gelanggang mancanegara planet Bumi ini. (*)

Penulis adalah budayawan Indonesia.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online