Harapan Jaya Suprana


Lebaran Jokowi-Prabowo

Kamis, 31 Juli 2014 | dibaca: 5256

Lebaran adalah perjumpaan antar manusia untuk saling memaafkan

Bagi saya, yang paling mengharu biru lubuk sanubari saya dalam suasana perayaan Idul Fitri yang di Indonesia kerap disebut Lebaran, adalah perjumpaan antarmanusia untuk saling memaafkan. Kata saling menjadi hakiki mendampingi memaafkan karena mustahil ada insan manusia yang lepas dari kesalahan, dengan sendirinya juga tidak ada insan manusia yang tidak butuh dimaafkan.

Pada Lebaran itu, tampil jelas ke permukaan kehidupan umat manusia, betapa indahnya sikap dan perilaku saling memaafkan. Pada momen itu, kita bersama dapat merasakan betapa indah saling memaafkan dibanding saling tidak memaafkan, yang hakikatnya sangat dekat dengan saling membenci, saling menuduh, saling memfitnah, saling menyelakakan, bahkan saling membinasakan.

Dalam Idul Fitri 1435 H yang pada 2014 bersamaan dengan masa pasca-Pilpres 2014—yang seharusnya usai pada 22 Juli 2014 namun masih berkelanjutan sebab ada pihak yang tidak bisa menerima hasilnya—makna utama Idul Fitri untuk kembali ke fitrah dengan saling memaafkan menjadi penting.

Tidak bisa diingkari, suasana masa pascapilpres masih ambivalen. Di satu sisi kegembiraan, kebahagiaan, dan suka cita penuh harapan. Di sisi lain kekecewaan bahkan amarah dan duka cita tanpa harapan. Bisa saja semua itu dianggap sebagai euforia positif maupun negatif yang akan lenyap bersama laju zaman. Biar waktu yang menyembuhkan.

Namun, sebenarnya kedua capres Pilpres 2014 menjadi sumber (menghindari istilah biang keladi) perselisihan, perseteruan, bahkan permusuhan - yang syukur alhamdullilah tidak meledak menjadi kekerasan. Mereka dapat mempercepat pemulihan suasana damai dan tenteram pada kehidupan bangsa dan negara Indonesia.

Lebaran merupakan kesempatan emas bagi kedua capres untuk menjadi teladan bagi segenap rakyat Indonesia, terutama para pendukung capres, untuk mau dan mampu saling memaafkan. Secara teknis, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilakukan kedua capres tanpa perlu mediator, dengan menjadikan perayaan Idul Fitri sebagai kesempatan. Sebagai yang berusia lebih muda, Jokowi dapat menyempatkan diri mengunjungi Prabowo untuk memohon dan memberikan maaf kepada mantan lawan di gelanggang pertarungan memperebutkan suara rakyat untuk menjadi Presiden RI ke-7.

Sejauh saya mengenal kepribadian Jokowi sejak masa kewalikotaan di Solo, dapat diyakini bekal kerendahan hati, kesederhanaan, senantiasa taat kepada ajaran agama dan tata krama budaya, sambil gigih menjunjung tinggi kepentingan rakyat di atas segala-galanya. Karena itu, sama sekali tidak masalah bagi Jokowi untuk mendatangi Prabowo sebagai pihak yang lebih senior alias lebih tua usianya. Sejauh saya mengenal semangat kekesatriaan Prabowo, mustahil sebagai pihak yang lebih tua–apalagi dalam masa Lebaran–menolak kunjungan Jokowi untuk saling memaafkan.

Pengaruh peristiwa saling memaafkan Jokowi-Prabowo, bila ditayangkan segenap stasiun televisi ke penjuru Tanah Air, jelas akan sangat bermakna bagi rakyat Indonesia, terutama para pendukung sebagai teladan untuk saling memaafkan. Bahkan, adegan saling memaafkan Jokowi-Prabowo yang disiarkan ke seluruh dunia bukan mustahil akan menjadi teladan bagi Palestina-Israel, Ukraina-Rusia, Korsel-Korut, Sunni-Syar di Irak, dan mereka yang sedang berselisih di Mesir, Suriah, Afganistan, Uygur, dan lainnya, untuk memanfaatkan perayaan Idul Fitri sebagai kesempatan untuk saling memaafkan.

Bila semua harapan saya itu benar-benar terjadi, makna lagu “What A Wonderful World” menjadi absah bukan sekadar sebagai sebuah lagu, melainkan sebagai harapan segenap umat manusia di Bumi ini. (*)

Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online