Harapan Jaya Suprana


Presiden Rakyat Sejati

Kamis, 07 Agustus 2014 | dibaca: 5879

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah resmi mengumumkan pemenang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah resmi mengumumkan pemenang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Namun, masih ada pihak yang menggugat KPU ke Mahkamah Konstitusi (MK). Demi menghindari tuduhan mendahului MK yang berarti inkonstitusional, lebih aman saya tidak menyebut nama sang presiden terpilih yang nanti menjadi Presiden Ketujuh Republik Indonesia (RI).

Terlepas dari siapa yang menjadi presiden, saya mengharapkan beliau adalah presiden rakyat sejati yang senantiasa dan niscaya berkenan mengutamakan, bahkan menjunjung tinggi kepentingan rakyat di atas segala kepentingan lain, apa pun juga, termasuk kepentingan partai politik (parpol) yang mengusungnya, apalagi kepentingan pribadi. Harapan saya beralasan ke keyakinan bahwa kepentingan rakyat memang harus “tidak-bisa-tidak”. Rakyat wajib diutamakan di atas segenap kepentingan apa pun, apalagi parpol!
Alasan utama rakyat harus diutamakan oleh presiden adalah pihak yang memilih siapa yang berhak mengemban tugas sebagai presiden sejak 2004 adalah rakyat. Jadi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperoleh anugerah MURI sebagai Presiden RI pertama yang dipilih langsung oleh rakyat, bukan oleh MPR, DPR, apalagi parpol.  

Tidak usah klise, pura-pura tanya rakyat yang mana. Hanya yang pura-pura tidak tahu yang tega mengaku tidak tahu bahwa yang memilih presiden adalah mayoritas rakyat.

    Kelebihan satu suara dari seorang rakyat seperti tersirat dalam kisah film Swing Vote, menentukan sang pemenang pilpres secara demokratis sebagai sistem alias cara yang sedang disepakati dilaksanakan di persada Nusantara. Silakan mendebat dengan alasan, yang mengusung dan memilih calon presiden (capres) adalah parpol bersama koalisi alias kelompok parpol lain-lain. Bahkan, yang mendukung kampanye sang capres juga parpol dengan pengorbanan lahir batin dan biaya bukan kepalang, yang seharusnya lebih indah digunakan untuk membangun gedung sekolah dan rumah sakit ketimbang dihambur-hamburkan guna kampanye capres. Apalagi, ini jika sejak semula sudah dapat ditebak siapa pemenangnya.

Namun jangan lupa fakta bahwa, yang didukung mati-matian oleh para parpol itu sebenarnya capres yang belum menjadi presiden. Apabila ditelusuri lebih cermat, sebenarnya dana yang dihamburkan untuk kampanye itu ujung-ujungnya adalah uang rakyat. Sementara itu, para anggota parpol pada dasarnya juga rakyat.

Berarti yang paling berjasa bagi seseorang sampai bisa menjadi presiden memang bukan parpol, DPR, MPR, KPU, MK, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Polri, TNI, pemerintah samp,ai presiden petahana (incumbent), melainkan memang mereka yang disebut sebagai rakyat.

Jadi, wajar diharapkan bahwa kepentingan rakyat wajib dijunjung tinggi di atas segenap kepentingan lain. Bahkan berdasar logika kronologi kelembagaan, rakyat lebih dahulu hadir sebelum negara dan bangsa sehingga dapat disimpulkan, posisi kepentingan rakyat lebih diutamakan ketimbang kepentingan negara dan bangsa.

Makin mantap apabila semua harapan itu masih dilengkapi mahkota slogan falsafah penggetar sukma: vox populi, vox dei. Dalam bahasa Indonesia itu dapat dimaknakan sebagai: suara rakyat adalah suara Tuhan. Jadi pada hakikatnya, tidak terlalu keliru apabila dengan penuh kerendahan hati dari lubuk sanubari terdalam, saya mengharapkan Presiden Ketujuh RI berkenan mengerahkan segenap daya darma bakti, jiwa raga, dan lahir batin dirinya demi paripurna. Semua itu dipersembahkan bukan bagi kepentingan parpol, apalagi pribadi dan keluarganya, namun sepenuhnya secara tulus ikhlas bagi kepentingan rakyat Indonesia.

Ini untuk bersama menempuh perjalanan perjuangan yang sarat kemelut deru campur debu, yang berpercik debu berpercik keringat serta air mata dan darah demi mencapai cita-cita terluhur bangsa Indonesia: masyarakat adil dan makmur! Merdeka! (*)
Penulis adalah budayawan.







 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online