Harapan Jaya Suprana


Mobil Dinas Jokowi

Kamis, 21 Agustus 2014 | dibaca: 5478

Para ilmuwan politik bisa saja menilai naskah saya ini lebai.

JIKA kita ingin merasa bangga menjadi bangsa yang makmur, saksikanlah parade mobil supermewah para elite politik usai rapat paripurna DPR di pelataran gedung MPR-DPR. Mobil yang tampil pada peristiwa membanggakan itu minimal Toyota Crown, Lexus, Audi 8, BMW seri 7, Mercy kelas S, Jaguar XK, Bentley, sampai ke merek yang tidak jelas saking mewahnya.

Pendek kata, kita layak merasa bangga menyaksikan betapa bangsa Indonesia telah berhasil memakmurkan warganya. Jadi, mereka mampu mengendarai mobil-mobil mewah berbanderol harga di atas Rp 1 miliar tersebut.

Hal yang mengganggu suasana kebanggaan parade mobil supermewah itu adalah mobil Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), yang telah diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai presiden terpilih, meski belum resmi diakui mereka yang masih sibuk menggugat KPU di Mahkamah Konstitusi (MK).

Sungguh disayangkan, Jokowi mengusik rasa kebanggaan kita semua dengan menggunakan mobil Kijang. Tidak jelas alasan Gubernur DKI Jakarta menggunakan mobil dinas dengan harga jauh di bawah standar mobil dinas para elite politik.

Padahal, sebagai kepala daerah Ibu Kota Indonesia, sepatutnya ia menggunakan mobil dinas kelas mewah yang layak dibanggakan sebagai citra kemakmuran bangsa Indonesia setelah 69 tahun merdeka. Mereka yang disebut dan menyebut dirinya sebagai ahli public relations bisa saja menuding Jokowi sekadar melakukan pencitraan dirinya dengan gaya sok sederhana.

Hal ini agar ia dianggap dekat dengan rakyat yang memang merupakan gara-gara kemenangan Jokowi di Pilpres 2014. Para lawan politik Jokowi juga siap sinis mencibir bahwa penggunaan mobil dinas tidak mewah itu cuma rekayasa strategi kampanye kepresidenan, meski KPU sudah resmi mengumumkan Jokowi sebagai presiden terpilih.

Bisa saja Jokowi dianggap masih melakukan pencitraan sebagai kampanye demi memengaruhi keputusan MK terhadap gugatan kubu nomor satu. Para sosiolog bisa saja menganggap mobil dinas tidak mewah Jokowi potensial merusak tatanan status sosial.

Sebenarnya, status itu sudah mapan di kalangan kaum politikus yang sudah sepakat menetapkan mahal murahnya harga mobil sebagai kaidah status tinggi rendahnya jabatan. Para psikolog bisa saja mengkhawatirkan penggunaan mobil tidak mewah Jokowi akan mempersulit posisi psikopolitis Jokowi. Itu karena rawan memicu rasa tidak senang.

Bahkan, kebencian para pendukung paham mobil mewah terhadap Jokowi. Memang berdasarkan fakta kodrati, suatu kesederhanaan di tengah lingkungan yang menjunjung tinggi ketidaksederhanaan merupakan suatu bentuk benda asing. Ibarat duri dalam daging yang mengganggu kemapanan dan kenyamanan lingkungan.

Para ilmuwan politik bisa saja menilai naskah saya ini lebai, sebab melebih-lebihkan hal sepele yang tidak perlu dilebih-lebihkan. Hal itu karena masih begitu banyak hal di kemelut politik Indonesia yang perlu dilebih-lebihkan. Namun, mobil dinas sederhana Jokowi memang bukan masalah sederhana bagi mereka yang sudah merasa mapan dan nyaman menggunakan mobil tidak sederhana. Atau juga bagi mereka yang memang sudah tidak suka pada Jokowi.

Mereka selalu mencari-cari apa saja yang bisa membenarkan rasa tidak suka pada Jokowi itu. Terlepas dari berbagai tafsir ilmiah atau tidak ilmiah apa pun juga terhadap mobil dinas Jokowi, saya pribadi mengharap Jokowi tetap tegar dalam bersikap tulus dan sederhana. Bukan sebagai pencitraan, melainkan sebagai ungkapan lubuk sanubari yang secara tulus memang dekat dengan rakyat.

Mereka yang tidak suka dan tidak mengerti Jokowi sempat menuduh  blusukan Jokowi sekadar pencitraan seorang yang ambisius menjadi presiden. Kini kita semua tahu bahwa blusukan sudah dilakukan Sultan Harun Ar-Rasyid di Bagdad nun jauh di zaman dahulu kala sebelum diporakporandakan Amerika Serikat. Pada hakikatnya, sekadar suatu bentuk cara atau lebih keren disebut metode untuk memperoleh data dan informasi secara langsung dari sumber utama.

Tanpa blusukan dikhawatirkan data dan informasi sudah tercemar proses distribusi data dan informasi melalui tangan bukan hanya kedua, melainkan tangan-tangan yang tidak jelas lagi jumlahnya. Saya lebih percaya bahwa penggunaan mobil dinas tidak mewah Jokowi merupakan ungkapan rasa prihatin, sekaligus kesetiakawanan Jokowi terhadap rakyat jelata yang membeli mobil rongsokan pun tidak mampu. Para ilmuwan keuangan alergi masalah-masalah unaccountable juga sulit membantah.

Apabila para pejabat tinggi dan anggota DPR semuanya menggunakan mobil Kijang, pada kenyataan tak terbantahkan APBD Republik Indonesia mengalami penghematan cukup bermakna asal ikhlas dianggap bermakna.

Tanpa berniat mistik-mistikan atau klenik-klenikan, saya merasa Jokowi merupakan titisan Bung Hatta. Terutama dalam semangat ketulusan dan kesederhanaan yang senantiasa luhur bersemayam di lubuk sanubari demi selalu dekat dengan rakyat jelata.

Karena itu, dari lubuk sanubari saya tulus mengharapkan Jokowi terus-menerus gigih menjabarkan semangat ketulusan dan kesederhanaan dirinya dalam mengawal derap langkah perjuangan bangsa Indonesia menempuh kemelut deru campur debu bepercik keringat, air mata, dan darah demi meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia: masyarakat adil dan makmur!

Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online