Harapan Jaya Suprana


RAPBN “Mission: (Im)Possible”

Jumat, 29 Agustus 2014 | dibaca: 5478

Akibat RAPBN SBY, saya mengharap MK mengabulkan gugatan Prabowo.

Semula saya mengharap Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan Prabowo terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU), agar Joko Widodo (Jokowi) dilantik menjadi Presiden VII RI. Namun, setelah Presiden VI RI membacakan RAPBN 2015 di sidang paripurna DPR, terpaksa saya berubah harapan.

Akibat RAPBN SBY, saya mengharap MK mengabulkan gugatan Prabowo terhadap KPU agar Jokowi batal dilantik menjadi Presiden VII RI.

Bukan saya tidak menghendaki Jokowi memimpin Indonesia, melainkan sekadar demi menghindari mahamasalah yang akan dihadapi Jokowi bila benar-benar menjadi Presiden RI.

Semula memang saya mengharap, bahkan meyakini, Jokowi menjadi presiden. Namun, setelah mengetahui rencana RAPBN 2015 yang disusun pemerintah kepresidenan SBY, saya merasa lebih baik saya batalkan harapan saya tentang Jokowi menjadi presiden.

Ini sebab saya merasa benar-benar iba dan kasihan kepada Jokowi bila harus menghadapi mission: impossible yang tersirat dan tersurat dalam RAPBN 2015, yang dibacakan SBY pada sidang paripurna DPR, menjelang peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 2014. Ada yang menyebut RAPBN 2015 kaya masalah miskin harapan.

Ada pula yang menganggap SBY mewariskan beban masalah terlalu besar kepada Jokowi. Saya menyebutnya sebagai RAPBN “Mission: Impossible”. Andaikan saya presiden penerus SBY, belum-belum saya pasti sudah putus asa dan patah semangat menyimak RAPBN 2015, yang bagi saya sangat amat menyeramkan ibarat film horor tentang kiamat itu.

Reformasi fiskal dan energi sama sekali sudah sirna dari permukaan maupun pedalaman kesadaran, sama sekali gagal dihadirkan di RAPBN 2015. Subsidi migas bukan tanggung-tanggung dilonjakkan menjadi lebih besar 600 persen dari Rp 44,6 triliun menjadi Rp 291,1 triliun, yang tentu tidak layak dianggap tidak mengerikan. Sebanyak 31.5 persen dari anggaran belanja total Rp 1.379 triliun berasal dari subsisi migas, listrik dan non-energi, sementara 11 persen dialokasi untuk bayar hutang.

Dana bantuan pembangunan daerah, yang penyalurannya selalu dicurigai bocor akibat rawan dikorup, tetap dibengkakkan menjadi Rp 631 triliun. Semua itu jelas menghadirkan ruang fiskal yang terlalu sempit bagi Jokowi untuk menatalaksanakan pengeluaran biaya yang produktif menggerakkan pertumbuhan. Ini sekaligus potensial mematahkan ambisi pertumbuhan ekonomi 7 persen dibanding 2014.

Jokowi harus mati-matian cermat dan saksama meninjau dan merevisi RAPBN warisan kepemerintahan SBY, sebelum dibaku-sahkan DPR, akhir September 2014. Jokowi harus rawe-rawe-rantas-malang-malang-putung mem-posibble-kan mission: impossible dalam bentuk RAPBN yang diwariskan ke dirinya itu. Syukur Alhamdullilah, angin sepoi membawa harapan sudah terasa lembut tertiup.

Sebelum RAPBN 2015 diumumkan Presiden SBY dalam sidang paripurna DPR, mendadak Jokowi sudah lantang menyatakan ia akan habis-habisan berjuang agar para sektor dasar pembangunan kerakyatan seperti pendidikan, kesehatan, perikanan, dan pertanian tampil sebagai para pemeran utama pada APBN 2015.

Bahkan, bila upaya itu kandas, Jokowi mengancam akan membongkar ulang keseluruhan RAPBN 2015. Ini agar ia dapat lebih leluasa menyusun RAPBN total baru yang lebih seiring-setujuan dengan semangat kerakyatan, sesuai yang ia dijanjikan kepada rakyat, terutama rakyat kecil Indonesia.

Saya cukup yakin atas ketulusan Jokowi dalam hal semangat kerakyatan. Ini sebab secara pribadi, putra Solo ini sempat berulang kali menegaskan kepada saya, ia sama sekali bukan antirakyat yang sudah mahakaya raya yang semua kebutuhannya sudah terpenuhi maka berubah menjadi sekadar keinginan belaka.

Namun, dalam pembangunan negara dan bangsa, memang sengaja secara sadar memilih untuk pro, alias berpihak kepada kepentingan rakyat jelata miskin, yang bahkan kebutuhan primernya saja belum terpenuhi.

Rollercoaster harapan yang saya tumpangi, setelah sempat berada di titik terendah pesimisme, kembali melonjak demi meluncur ke arah titik puncak optimisme penuh harapan.

Dengan semangat ketulusan kerakyatan yang mendarah-daging dalam dirinya, Jokowi pasti mampu merombak RAPBN “Mission: Impossible” menjadi APBN “Mission: Possible”, pendukung derap langkah perjuangan Jokowi menjunjung tinggi kepentingan rakyat, nun jauh di atas kepentingan lain apa pun juga.

Bersama rakyat ia menempuh perjalanan ke masa depan demi meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia, masyarakat adil dan makmur! Selamat Berjuang, Presiden Jokowi!

                                                                                                                    (*) Penulis adalah budayawan.








 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online