Harapan Jaya Suprana


“Relawan-Power”

Kamis, 04 September 2014 | dibaca: 5123

Sejarah membuktikan, suatu kemahakuasaan dihancur-leburkan People-Power.

Sempat tersebar berita di media sosial formal maupun informal, bahwa para relawan pendukung Jokowi merasa kecewa akibat tidak diberi kejelasan posisi di Rumah Transisi. Berita itu kurang jelas sehingga sulit menentukan penilaian yang jelas. Tidak jelas mengenai alasan para relawan merasa kecewa terkait posisi di Rumah Transisi.

Bila para relawan pendukung Jokowi merasa kecewa akibat tidak diberikan posisi jabatan dalam kabinet Jokowi atau imbalan apa pun atas pengorbanan lahir-batin mendukung Jokowi sehingga terpilih menjadi Presiden RI, ini layak diberikan penilaian negatif.

Sebutannya saja relawan, sungguh tidak layak bila di balik rela ternyata ada pamrih. Sebutan “pamrihwan” lebih cocok ketimbang relawan. Apalagi, para relawan pendukung Jokowi sudah terlanjur tersohor benar-benar rela tidak dibayar sesen pun, sebutan relawan perlu diganti menjadi “dustawan”.

Pendek kata, tidak ada kompromi untuk tidak mengecam para relawan yang menuntut pamrih. Namun, bila para relawan pendukung Jokowi merasa kecewa akibat tidak diberi kejelasan posisi di Rumah Transisi dalam makna tidak diberi kejelasan posisi untuk mengawal dan mengawasi proses kerja Tim Transisi di Rumah Transisi, kita semua layak memberikan acungan jempol kedua tangan dan kedua kaki kita masing-masing bagi mereka.

Sebagai para relawan pendukung Jokowi tanpa pamrih, mereka sepenuhnya berhak mengawal dan mengawasi bukan saja Tim Transisi namun, melainkan juga nanti Jusuf Kalla (JK) sebagai wakil presiden maupun Jokowi sebagai presiden. Jasa para relawan mengusung Jokowi ke takhta kepresidenan tidak bisa dipandang remeh, sebab sama sekali tidak lebih remeh ketimbang tim sukses maupun para partai politik (parpol).

Tidak bisa diingkari fakta kaum relawan pendukung Jokowi sangat berjasa melambungkan popularitas Jokowi menjelang hari Pilpres 9 Juli 2014. Itu dengan berbagai kreasi kegiatan kampanye luar biasa kreatif, memuncak pada pergelaran para seniman dan budayawan Indonesia di Gelora Bung Karno nan gegap-gempita semarak, gemerlap tiada tara. Jika para relawan terbukti nyata mengawal proses penyapresan Jokowi sedemikian rawe-rawe-rantas-malang-malang-putung maju-tak-gentar sehingga akhirnya Jokowi benar-benar terpilih menjadi presiden, sudah sepantasnya bahkan sewajibnya, para relawan gagah-perkasa itu diberi posisi jelas demi mengawal dan mengawasi proses kerja Tim Transisi.

Bahkan, nanti setelah pelantikan Presiden VII RI juga mengawal dan mengawasi Jokowi-JK dalam perjuangan memimpin negara dan bangsa Indonesia. Kalau di Filipina, pada masa Corazon Aquino dulu sempat menggaung istilah “people-power”, di Indonesia pada masa Jokowi kini menggema istilah “relawan-power”.

Sebaiknya jangan anggap remah kedigdayaan Relawan-Power, yang berbekal semangat ketulusan dan keikhlasan tidak kenal gentar, menghadapi angkara-murka semurka apa pun yang ingin menghambat apalagi menjegal derap langkah Jokowi mengabdikan jiwa-raga lahir-batin dirinya bagi negara, bangsa, dan rakyat Indonesia.

Silakan konspirasi berkedok koalisi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersatu padu menggalang kekuatan dan kekuasaan, demi mempersulit bahkan kalau bisa melengserkan Jokowi. Di alam demokrasi, apa boleh buat secara konstitusional DPR memang memiliki hak dan wewenang melakukan impeachment alias pemakzulan yang merupakan eufemisme perongrongan. Namun, sebaiknya mereka berpikir ulang triliunan kali sebelum merongrong-ria apalagi melengserkan Jokowi.

Itu karena mereka bukan akan berhadapan dengan Jokowi seorang diri atau berduaan dengan JK, melainkan akan berhadapan dengan Relawan-Power nan gigih-perwira mengawal kepresidenan Jokowi tanpa pamrih, apalagi tuntutan kerakusan kekuasaan secuil pun. Sejarah membuktikan, suatu kemahakuasaan bersosok Uni-Soviet terbukti tidak berdaya bahkan dihancur-leburkan People-Power yang berawal pada perlawanan Lech Walessa di Gdansk, Polandia.

Itu kemudian merambah ke negara-negara Eropa Timur sebelum meruntuhkan tembok Berlin di Jerman. Besar harapan saya, Relawan-Power akan terukir di lembaran sejarah Indonesia sebagai pengawal derap langkah Jokowi dalam perjuangan menjunjung tinggi kepentingan rakyat demi meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia: masyarakat adil dan makmur. Insya Allah, Relawan-Power akan mengukir nama Indonesia pada lembaran sejarah dunia sebagai keteladanan perjuangan oleh rakyat untuk rakyat, yang berlangsung secara damai tanpa pertumpahan setetes darah pun.  Lebih damai ketimbang Revolusi Perancis 1789-1799.

Selamat berjuang, para relawan sejati. (*)



                                                                                                                                                                                   Penulis adalah budayawan.







 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online