Harapan Jaya Suprana


Belajar dari Sri Sultan dan Florence

Kamis, 16 Oktober 2014 | dibaca: 5597

Dalam hidup ini kita harus menghormati dan menghargai orang lain.

Berita yang indah selalu tenggelam ditelan gelombang berita penganut paham bad news is good news. Terbukti berita tentang Sultan Hamengkubuwono X memaafkan Florence Sihombing tenggelam dilanda banjir berita, seperti berita KPK menersangkakan menteri ini dan itu, ISIS memenggal kepala sesama manusia, ebola mengancam dunia, Brimob menembak TNI, Sekneg tolak Kementerian Kebudayaan, demo tolak Ahok, KMP siap merongrong Jokowi, DPR merampas hak rakyat untuk memilih, dan lain-lain berita aliran bad news is good news.   

Meski hanya berskala kecil dan tidak ditampilkan sebagai berita utama, berita tentang Sri Sultan memaafkan Florence merupakan sebersit sinar pembawa harapan di tengah suasana kegelapan serbakelam. Diberitakan bahwa Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X meminta masyarakat Yogyakarta berkenan memaafkan Florence Sihombing, sebagai tersangka kasus penghinaan masyarakat Yogyakarta melalui media sosial.  

Di sisi lain, Sri Sultan mengharapkan Florence berkenan memperbaiki diri dan jangan meninggalkan Yogyakarta demi merampungkan program pascasarjana di UGM Yogyakarta. Bahkan, Sri Sultan dengan bijak mengatakan, “Tadi Florence menyampaikan permohonan maaf kepada saya secara tulus dan ikhlas maka kewajiban saya adalah memberi maaf!”  

Sikap bijaksana Sri Sultan sebenarnya sangat layak menjadi suri teladan bagi mereka yang sedang asyik salah-menyalahkan tanpa sudi saling mengerti. Apalagi masalah saling memaafkan tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia yang sarat beban kebencian dan kekerasan ini. Suatu sikap cinta damai dan sarat kasih sayang yang perlu disimak, dihayati, serta diteladani mereka yang sedang asyik bertikai di Gaza, Irak, Suriah, Ukraina, Korea, Rohingya, Papua, sampai ke ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat.  

Florence telah menyadari maka mengakui telah melakukan kesalahan dengan mengeluarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan warga Yogyakarta di akun media sosial Path. Kata-kata Florence telah mengobarkan amarah sejumlah LSM di Yogyakarta. LSM tersebut pun melaporkan Florence ke Polda DIY dengan tuduhan penghinaan dan pencemaran nama baik. Polda DIY juga bereaksi secara konstitusional dengan menetapkan Florence sebagai tersangka, kemudian menahan Florence selama dua hari, sebelum menangguhkan penahanan Florence atas permintaan warga Yogyakarta pula. Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta telah membuktikan dirinya memang istimewa dengan mau dan mampu menata kehidupan masyarakat Yogyakarta secara mandiri sesuai kebudayaan Yogyakarta.  

Kita bisa (kalau mau) memetik banyak pelajaran dari berita permohonan maaf Florence Sihombing. Misalnya saja, alam demokrasi memang memberikan kebebasan bagi kita untuk menjabarkan hak asasi berpendapat dan menyatakan pendapat. Kebebasan yang makin bebas akibat hadirnya teknologi media sosial, memberikan kesempatan menjabarkan hak asasi berpendapat dan menyatakan pendapat seolah tanpa batas. 

Bahkan, seperti halnya surat kaleng, teknologi komunikasi masa kini juga memungkinkan penulisan surat elektronik kaleng yang menutupi identitas sang penulis. Sebenarnya, semua pihak perlu sadar. Kebebasan mengutarakan pendapat sama sekali bukan berarti kebebasan mengutarakan pendapat tanpa batasan etika, moral, dan hukum! Seyogianya kita waspada dan saksama mengendalikan diri dalam menyatakan pendapat akibat yang kita anggap sebagai pendapat rawan ditafsirkan sebagai penghinaan, pencemaran nama baik, bahkan fitnah.  

Dari Sri Sultan dan Florence, kita bisa belajar bahwa di alam demokrasi yang paling demokratis pun, kita tetap tidak bisa sekehendak diri kita sendiri mengumbar penghinaan, pencemaran nama baik, apalagi fitnah. Seyogianya, kita wajib belajar untuk menahan diri kita ketika melakukan kampanye hitam terhadap pihak mana pun juga di masa kemelut pilpres, pileg, pilkada, pil KB, atau pil apa pun juga agar tidak dituduh menghina apalagi memfitnah.   

Dalam berpolitik, jangan kita sengaja memperangkapkan diri pada keyakinan bahwa politik itu tidak bisa tidak harus kasar dan kotor! Politik bisa—kalau mau—santun dan bersih. Dalam mengritik, lebih arif kita berupaya fokus pada apa, ketimbang siapa yang perlu dibenahi. Dalam berkampanye boleh-boleh saja kita menganggap capres kita yang paling baik, tetapi sebaiknya jangan menjelek-jelekkan, apalagi memfitnah capres pihak lain. Dalam beragama, boleh saja kita masing-masing menganggap agama yang kita anut sebagai yang paling benar bagi diri kita sendiri. Namun, jangan sampai kita menyatakan agama lain yang dianut orang lain sebagai tidak benar akibat rawan ditafsirkan sebagai pelecehan, penghinaan, bahkan penghujatan yang memang secara sopan santun, tata krama, maupun hukum mustahil dibenarkan!   

Kita bisa memetik pelajaran indah dari untaian kata dan kalimat indah yang diungkap Florence Sihombing seusai menghadap Sri Sultan. “Saya merasa terharu dan tidak bisa berkata-kata, sebab Sri Sultan sudi menemui saya. Kasus ini memberi pelajaran sangat penting bagi diri saya sendiri, yaitu dalam hidup ini saya harus menghormati dan menghargai orang lain!”  


Penulis adalah budayawan.








 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online