Harapan Jaya Suprana


Masa Depan Gilang-gemilang

Rabu, 31 Desember 2014 | dibaca: 5018

The Economists,  menobatkan Indonesia sebagai Country of the Year 2014.


Demi meningkatkan oplah, ada semacam metode yang menjadi tradisi di dunia jurnalistik, terutama dalam menyambut tahun baru. Tradisi memilih dan menobatkan insan sebagai Tokoh Tahun  atau Person of The Year. Namun, ada juga majalah, seperti Time, yang menobatkan bukan insan, tetapi kelompok, yaitu para pejuang penaklukan penyakit ebola sebagai Tokoh 2014. Mereka mengungguli para tokoh terkemuka di dunia yang mendominasi pemberitaan sepanjang 2014, termasuk Jokowi. 

Pesaing Time dari Eropa yakni majalah The Economist,  menobatkan Country of the Year 2014. Dalam pengumuman negara mana yang terpilih menjadi Tokoh 2014, majalah itu sengaja merekayasa suasana menjadi tegang dengan pertama melakukan kilas balik terhadap peristiwa-peristiwa penting di bumi sepanjang 2014; dimulai suasana negatif sesuai asas bad news is good news.

Redaksi  The Economist menilai 2014 sebagai bukan tahun yang baik karena dikuasai pemberitaan mengenai pembinasaan manusia oleh manusia, wabah penyakit, dan perpecahan negara. Angkara murka ISIS yang makin menjadi IS memorak-porandakan Irak dan Suriah sehingga memicu pengungsian massal mencari tempat kehidupan yang lebih aman.

Rusia dengan kekerasan asyik memereteli Ukraina. Boko Haram merusak peradaban dan kebudayaan Nigeria. Taliban membantai warga Pakistan. Sudan Selatan yang baru lahir berusia tiga tahun sudah harus mengalami perang saudara menuju perpecahan internal selanjutnya.

Namun, perlawanan terhadap malapetaka juga terjadi seperti yang sedang diperjuangkan peshmerga di Kurdistan Irak dalam melawan IS demi menyelamatkan Bagdad; atau Skotlandia yang batal melepaskan diri dari Inggris melalui referendum.

Kepulauan Marshal gigih melawan proses alami ketertenggelaman pulau-pulau mereka ditelan samudra. Negara sekecil Lebanon membuka diri untuk menerima, menampung, bahkan merawat ratusan ribu pengungsi dari Suriah.

Pemerintah Kolombia sedang berunding dengan gerilyawan FARC untuk menghadirkan perdamaian di dalam negeri, yang apabila berhasil, berpotensi dinominasikan sebagai Tokoh Negara 2015. Irlandia, Islandia, Estonia, dan India sedang sibuk membenahi diri sendiri demi menghadirkan ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan mereka masing-masing yang perlu diharapkan berhasil di 2015; sebagai bukti bahwa peradaban dan kebudayaan umat manusia di bumi tidak semuanya memuja kekerasan dan kebengisan.

Seperti pada upacara anugerah Oscar, kemudian majalah The Economist mengumumkan Tokoh 2014, dimulai dari juara ketiga yang ternyata jatuh pada Uruguay. Ternyata sang juara pertama adalah Tunisia yang jauh meninggalkan Mesir, Libia, apalagi Suriah dan Irak dalam keberhasilan bangkit kembali dari keterpurukan.  

Namun, sebagai warga negara dan bangsa Indonesia, saya lebih bangga terhadap pilihan The Economist tentang juara kedua Country of The Year 2014 yang jatuh pada Indonesia.

Redaksi The Economist membeberkan alasan mereka memilih Indonesia, dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia, telah memilih seorang politikus muda mengungguli calon presiden dari rezim militer, melalui pemilihan presiden secara demokratis, meski secara terhuyung-huyung menempuh proses hukum.

Mirip Time, majalah The Economists mengharapkan Presiden Joko Widodo akan mau dan mampu memimpin negara dan bangsa Indonesia untuk meninggalkan segenap kemelut permasalahan masa lalu demi berjuang menempuh perjalanan ke masa depan yang gilang-gemilang. Hidup Indonesia! (*)

        Penulis adalah warga Indonesia yang telanjur cinta Tanah Air.








 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online