Harapan Jaya Suprana


Panggung Politik Indonesia

Kamis, 15 January 2015 | dibaca: 5065


Meski atau justru akibat awam politik, saya menjadi penonton setia pergelaran politik Indonesia. Apa yang nyata dipergelarkan di panggung politik Indonesia sama sekali tidak kalah seru ketimbang apa yang dikhayalkan di legenda Mahabharata, wayang purwa, Sam Kok, King Lear, Game of Thrones atau Doraemon. 

Bahkan, yang terjadi di panggung politik di samping jauh lebih beraneka ragam seperti tragedi, drama, komedi, humor, horor, yang dalam perjalanan kisah bisa berubah dari tragedi menjadi dagelan, lalu menjadi horor, bahkan tidak jelas genre, sebab tidak jelas juntrungannya. 
Kisah nyata yang dipergelarkan di panggung politik Indonesia menjadi makin seru sebab penuh misteri dan teka-teki yang tidak pernah terjawabkan akibat terlalu membingungkan.

Tidak jelas siapa sebenarnya pemeran utama dan siapa sebenarnya pemeran pembantu, atau siapa sebenarnya pemeran figuran. Siapa sutradara dan produsen pun mustahil diketahui agar sang kisah menjadi makin seru tanpa ada yang bertanggung jawab. 

Bagi para pemeran sendiri kerap kurang jelas mengenai peran apa yang sebenarnya yang diperankannya sebab skenario kisah saja tidak pernah jelas. Bahkan, siapa penontonnya tidak jelas sebab terkadang penonton bisa ikut naik panggung menjadi pemeran atau sebaliknya pemeran turun panggung menjadi penonton. 

Tampaknya gaya improvisasi memang lebih disukai untuk diterapkan di panggung politik Indonesia. Legenda  menjadi terlalu sederhana dibanding misteri yang nyata terjadi di panggung politik Indonesia. Dagelan menjadi hambar dibandingkan dengan kejenakaan yang nyata terjadi di panggung politik Indonesia. 

Industri humor di Indonesia mengalami masa suram tersaingi bahkan terpukul humor yang merajalela di panggung politik Indonesia masa kini. Kisah kriminal yang dipergelarkan di panggung politik menjadi sangat menarik sebab tidak kunjung terbongkar rahasia siapa sebenarnya yang melakukan kejahatan; terbukti begitu banyak kasus kriminal yang menguap akibat terlalu lama dipetieskan. 

Kisah pemberantasan korupsi di panggung politik Indonesia bisa berubah menjadi kisah drama (atau komedi) kehutanan akibat secara teknis maupun politis terpaksa mematuhi mazhab tebang pilih. Namun, di antara sekian banyak kemenarikan itu, tampaknya yang akhir-akhir ini sedang terjadi di panggung politik Indonesia layak dianggap paling seru. Meski tampak jelas kisah yang dipergelarkan di panggung, namun tidak pernah jelas mengenai sebenarnya apakah kisah itu sebuah komedi, dagelan, drama, tragedi, horor, opera, operet, vaudeville, sirkus atau apa. 

Jalur kisah memang dimulai secara jelas, namun kemudian menjadi tidak jelas  siapa pemeran utama, siapa pemeran pembantu, siapa figuran, siapa penata panggung, siapa sutradara, dan siapa produsen. Kisah diawali dengan jelas, yaitu presiden ingin mengangkat kepala kepolisian yang baru, meski tidak jelas alasannya sebab kepala kepolisian yang lama belum pensiun. Kisah kemudian mulai seru sebab presiden memilih calon kepala kepolisian yang baru, namun tidak jelas merupakan pilihan sang presiden sendiri atau masukan atau paksaan dari pihak lain.  

Kisah makin seru akibat ternyata calon kepala kepolisian yang dicalonkan presiden menimbulkan dampak badai. Protes datang dari berbagai pihak dengan alasan rekam jejak negatif maupun alasan lain yang tidak jelas maksudnya apa. Kisah seru menjadi kacau balau setelah mendadak sang calon kepala kepolisian itu dinyatakan KPK sebagai tersangka korupsi, sehingga para pemeran, termasuk sutradara dan produsen, bahkan penonton pergelaran politik, salah-menyalahkan akibat kisah dianggap sudah keluar dari jalur skenario yang tidak jelas dibuat oleh siapa untuk siapa dan kenapa.

Penulis adalah penonton setia pergelaran politik.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online