Harapan Jaya Suprana


“Ngono Yo Ngono Ning Ojo Ngono”

Rabu, 21 January 2015 | dibaca: 5010


Saya prihatin dan berdukacita atas gugurnya 10 anggota redaksi majalah Charlie Hebdo (CH), beserta dua anggota kepolisian Paris, akibat angkara murka teroris. Kekerasan dengan alasan apa pun jelas tidak bisa ditoleransi, apalagi dibenarkan. 

Kekerasan dalam bentuk pembinasaan oleh manusia terhadap sesama manusia, makin tidak bisa dibenarkan. Saya pribadi tidak setuju hukuman mati karena juga merupakan pembinasaan oleh manusia terhadap sesama manusia.

Alasan klasik demi menjerakan, tetap tidak relevan melayakkan pembinasaan oleh manusia terhadap sesama manusia. Hukuman seumur hidup meringkuk dalam penjara malah lebih kejam, lebih menjerakan ketimbang hukuman mati yang malah langsung menghapus segenap penderitaan sang terhukum mati. Hukuman seumur hidup memperpanjang derita sampai seumur hidup sang terhukum, pasti lebih menjerakan ketimbang hukuman mati.

Saya menghargai semangat redaksi majalah satire CH yang diberitakan akan gigih melanjutkan perjuangan melalui jalur humor, demi memperbaiki peradaban dan kebudayaan umat manusia di Bumi ini. Justru akibat bersimpati terhadap misi-visi perjuangan majalah CH, sebagai peneliti humor yang hasilnya telah saya tuangkan ke dalam buku Humorologi, saya mengharapkan redaksi majalah CH berkenan untuk tidak melestarikan keyakinan bahwa humor pasti lucu.

Lucu-tidaknya apa yang disebut sebagai humor, sepenuhnya tergantung tafsir pengirim dan penerima pesan humor, yang pada hakikatnya an sich bebas nilai. Humor A bisa dianggap lucu oleh B, namun dianggap tidak lucu oleh C. 

Redaksi CH pasti yakin kartun terkait tokoh agama tertentu adalah lucu, bahkan sangat lucu. Namun, bagi orang lain kartun CH belum tentu dianggap lucu, bahkan bisa dianggap penghinaan yang wajib dibalas dengan pembinasaan.

Kebebasan pers tidak boleh ditafsirkan sebagai kebebasan menghina, apalagi mengingat batasan antara menghina dengan tidak menghina sangat kabur. Saya sempat menjadi saksi ahli pengadilan kasus sebuah editorial kartun, tentang Akbar Tanjung di koran Rakyat Merdeka (RM) pada 2 Januari 2002, akibat dianggap lucu oleh redaksi RM, namun dianggap penghinaan oleh Akbar Tanjung.

Sampai kini, saya masih jengkel mengenang kartun-kartun saya bertema malaikat dan iblis ditolak redaksi koran Westdeutsche Allgemeine Zeitung pada 1970-an, ketika saya masih mencari nafkah sebagai kartunis di perantauan, dengan alasan khawatir menyinggung perasaan kaum beragama.
Rupanya pers Jerman memang menjunjung tinggi kebebasan menyampaikan pendapat, namun bukan kebebasan menghina. Akibat kebebasan menyampaikan pendapat pada hakikatnya memang bukan kebebasan menyampaikan penghinaan, semoga di masa mendatang secara ontologis redaksi CH berkenan berhenti meyakini penampakan bahwa humor pasti lucu. 

Telah terbukti pada kenyataan, ternyata humor bisa tidak lucu, bahkan berbahaya. Masih begitu banyak sasaran yang lebih bisa dihumorkan tanpa terlalu banyak risiko kekerasan bahkan pembinasaan, ketimbang sasaran yang lebih berisiko menyinggung bahkan melukai sanubari kaum beragama. Apalagi, bila tujuan redaksi majalah sindiran humor CH berhumor memang benar-benar demi konstruktif memperbaiki peradaban dan kebudayaan umat manusia.

Terbukti, kartun terkait tokoh agama alih-alih konstruktif memperbaiki peradaban dan kebudayaan umat manusia, malah memicu dampak destruktif. 

Memang akibat perbedaan latar belakang kebudayaan, mungkin saja mazhab kebebasan pers Jerman beda dengan Prancis. Justru akibat perbedaan latar belakang kebudayaan itu, saya mengharap segenap pihak berkenan sejenak menyimak, demi menghayati kearifan wejangan ngono yo ngono ning ojo ngono.

Penulis adalah pembelajar kebudayaan Jawa.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online