Harapan Jaya Suprana


Membalas Penghinaan dengan Bunga

Kamis, 22 January 2015 | dibaca: 5166


Tragedi Charlie Hebdo (CH) di Paris belum juga berakhir. Bahkan, disusul berbagai kekerasan lain sementara CH menerbitkan edisi lanjutan, dengan lagi-lagi memuat editorial kartun yang memicu amarah bukan hanya umat Islam di seluruh dunia, sehingga Paus Fransiskus mengimbau olok-olok dihentikan.

Galau akibat segenap kekerasan itu, Pusat Studi Kelirumologi menyelenggarakan forum diskusi “Kebebasan Menyampaikan Pendapat Sama dengan Kebebasan Menyampaikan Penghinaan?”, dengan pembicara sang begawan hukum Indonesia Prof Dr Adnan Buyung Nasution dan hadirin terdiri dari para tokoh pemikir Indonesia. 

Satu tokoh yang saya undang adalah Prof Dr Siti Musdah Mulia, yang entah kenapa tidak diangkat menjadi menteri kabinet kerja oleh Presiden Jokowi. Tokoh cendekiawati Islam ini menjawab undangan saya dengan e-mail sebagai berikut;
Yth Pak Jaya,

Acara ini sangat saya tunggu. Mengapa? Karena intinya adalah bagaimana kita harus mampu mendewasakan diri dalam beragama. Kata kuncinya, jika kita dewasa dalam beragama, apa pun penghinaan akan kita hadapi dengan kepala dingin. 

Kalau ditanya apakah saya tidak marah jika nabi dan Tuhan dihina? Jawabnya, tentu saya sangat marah. Marah sekali! Namun, saya tidak akan bertindak bodoh seperti penghinanya. Membalas penghinaan dengan kebrutalan, berarti kita lebih hina dan lebih bodoh. Saya malah akan mengirimkan bunga kepada penghinanya, untuk mengajarkan dia belajar keindahan. 

Hidup pun sebetulnya bisa lho, dibuat lebih indah dari bunga itu, tergantung bagaimana kita melihat hidup itu sendiri. Para penghina itu hanyalah orang-orang bodoh dan frustrasi, serta hidupnya penuh ketegangan makanya perlu diberi bunga. 

Sayangnya, tanggal 29 itu saya menjadi pembicara di pelatihan HAM bagi para polisi di Bandung. Jadi, salam untuk semua peserta diskusi dan sukses selalu. 

Salam damai,
Musdah Mulia. 

Tidak bisa menerima ketidakhadiran tokoh muslimah menakjubkan itu, saya langsung membalas;

Lho, Anda hukumnya wajib untuk hadir. Falsafah Anda membalas penghinaan dengan bunga benar-benar luar biasa indaaaaah! 

Apakah ada ayat Alquran yang mendukung uraian indah Anda tersebut? Tolong di-e-mail ke saya sebab saya akan menulis naskah tentang falsafah menghadapi penghinaan untuk diteladani seluruh umat manusia, demi menghentikan kekerasan.  

Salam hormat dari Jaya Suprana.

Tangkas, sang tokoh muslimah meng-e-mail jawabannya;

Lebih dari wajib, tapi acara di Bandung sudah setahun lalu confirm. Saya akan zalim kalau ingkar janji.
Ayat secara harfiah tentu nggak ada, tapi kitab suci mengandung aturan umum yang dapat dijadikan rujukan, misalnya dua ayat berikut.

Kedua ayat ini bagi saya cukup menjelaskan bahwa kejahatan atau penghinaan tidak perlu dibalas dengan penghinaan, apalagi dengan kebrutalan, tetapi dengan kebaikan, keindahan, yaitu kiriman bunga. 

Alquran Surat Asy-Syura, 42:40, “Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Akan tetapi, barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat kepadanya) maka pahalanya berlimpah langsung dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Al-Hujurat 49:7, Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah, kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusanbenar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikankamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu ‘indah’ di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

Sebagai seorang penganut ajaran kasih sayang Yesus Kristus, saya sangat setuju dengan kearifan Prof Siti Musdah Mulia. (*)

Penulis adalah penganut ajaran kasih sayang Yesus Kristus.








 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online