Harapan Jaya Suprana


Trims, Pak Mahfud MD

Rabu, 11 February 2015 | dibaca: 5146


Suhu politik dari hangat menjadi panas, bahkan terus meningkat, akibat ontran-ontran calon Kapolri, apalagi secara sadar atau tak sadar, sengaja atau tak sengaja, media massa dan media sosial mengipasi kobaran api politik yang sedang membakar ranah politik Nusantara. 

Pihak yang pro calon Kapolri jelas terus memaksakan kehendaknya untuk memastikan calon kesayangannya resmi dilantik oleh presiden. Pihak yang kontra calon Kapolri jelas terus memaksakan kehendaknya untuk menghalang-halangi calon kebenciannya resmi dilantik oleh presiden. 

Pendek kata, masing-masing pihak gigih memperjuangkan kepentingannya tanpa peduli kepentingan negara, bangsa, apalagi rakyat yang tak berdaya apa pun, kecuali melongo menyaksikan pilar-pilar persatuan dan kesatuan bangsa dirongrong oleh mereka yang menjunjung tinggi kepentingan pribadi dan golongan nun jauh di atas kepentingan bangsa, negara, dan rakyat. 

Gara-gara urusan calon Kapolri, presiden yang semula dielu-elu mulai dihujat, terutama oleh mereka yang sejak semula tidak memilih calon presiden (capres)  yang kini menjadi presiden. Bagi yang masih percaya kebijakan sang presiden cukup dengan mencemooh sang presiden cuma boneka yang dikendalikan orang lain. 

Suasana makin membingungkan dan mencurigakan sebab mendadak koalisi oposisi yang lazimnya senantiasa niscaya melawan presiden, mendadak sontak mendukung presiden untuk segera melantik calon Kapolri menjadi Kapolri. Presiden sendiri terkesan bingung sampai membentuk dua tim penasihat presiden yang saling beda pendapat. 

Tim penasihat pun terkesan ikut bingung sebab ada yang ngambek sampai tega melapor ke pers sambil mengancam bahwa dirinya sudah tidak mau lagi memberi nasihat kepada presiden apabila presiden tidak mau menuruti nasihat. Seolah tim penasihat berubah menjadi tim pemaksa nasihat harus dituruti. 

Fitnah-memfitnah juga ikut berkobar membakar suasana. Sebagai balas dendam akibat calon Kapolri ditersangkakan oleh KPK maka salah seorang ketua KPK langsung diborgol untuk diseret sebagai tersangka ke kantor polisi. Dengan dalih menjaga keamanan kantornya, KPK bukan memanggil polisi, tetapi malah serdadu TNI.  

Mendadak tampil seorang tokoh nasional yang di masa Pilpres 2014 sempat merosot pamornya akibat berpihak ke kubu capres yang kebetulan kalah. Ibarat keris yang tidak peduli pamor, tokoh ini bukan ikut memanaskan suasana meski sebenarnya memiliki potensi pengaruh cukup besar untuk melakukannya.

Alih-alih makin memanaskan, sang tokoh malah berupaya menyejukkan suasana dengan secara bergilir mendatangi Ketua KPK Abraham Samad dan Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti yang sementara mengemban tugas memimpin Polri. 

Ketika berkunjung ke KPK, sang tokoh bukan menjelek-jelekkan Polri, namun berupaya menyelamatkan KPK sebagai anak kandung yang dilahirkan Orde Reformasi. Meski seorang ahli hukum, sang tokoh nasional ini tidak memanfaatkan kemelut calon Kapolri sebagai kesempatan untuk menjual produk jasa hukum dengan tarif miliaran rupiah kepada KPK. 

Ketika berkunjung ke kantor Mabes Polri, sang tokoh bukan menjelek-jelekkan KPK, tetapi malah menjalin kesepakatan dengan Wakil Kapolri untuk bersama membela, melindungi, dan menyelamatkan kehadiran KPK. 

Saya tidak berdaya apa pun kecuali mengucapkan terima kasih atas upaya mendamaikan KPK dan Polri itu. Terima kasih, Pak Mahfud MD.  

Penulis adalah pencinta damai. 






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online